Senin, 09 Januari 2017

Anehdot Netizen Politik Indonesia

Lelahkah kita dengan gonjang-ganjing pilkada yang – mungkin bahkan – tuhan pun tak tahu kapan selesainya? Twitter, Facebook selalu membombardir kita lewat mereka yang katanya relawan masing-masing jagoan dengan kedegilannya masing-masing.
sumber: bbc.com

Mereka pula yang selama ini menyuramkan penglihatan kita akan kebenaran yang hakiki. Menuduh yang satu menggunakan ayat tuhan untuk kepentingan politiknya. Padahal, ia pun memperkuat argumen pembelaan juga dengan ayat tuhan. Memperdagangkan firman tuhan sesuai kepentingan dengan tafsir berbeda memang sudah menjadi komoditas nasional ( meski yang satu menolak dianggap sebagai pengobral ayat suci al’quran). Dalam sekejap mata, negeri kita penuh sesak dengan ahli tafsir.

Ahmad Sahal, misalnya. Penduduk twitter mana yang tak tahu ustadz satu ini. sekolah tinggi nan jauh hingga ke Pennsylvania, AS sana, beliau kini sibuk membenarkan akhlak orang-orang yang menurutnya radikal dan menjadi cerobong ISIS – yang lagi-lagi menurut beliau – akan membawa Indonesia ke gerbang kehancuran, hanya karena berbeda pilihan.

Saya tidak begitu mengenal Ahmad Sahal dan saya pastikan dia juga tidak kenal saya, saya hanya orang yang dulu sempat menikmati tausiyah beliau di Twitter tentang toleransi dan keberagaman. Bahasanya yang sederhana tapi bermakna cukup dalam makin membuat saya betah berlama-lama baca cuitan Ahmad Sahal. Pengetahuannya tentang sejarah Islam lintas zaman semakin membuat saya belajar banyak tentang peradaban Islam di masa lalu. Ia pun cukup pintar menjawab pertanyaan netizen yang tetap setia di jalur agama, tanpa tedeng aling-aling pilkada.

Berbicara politik kita selalu berbicara tentang kepentingan dan hawa nafsu, baik itu pribadi ataupun golongan. Kepentingan politik pula yang sedang kita alami kala dihadapkan oleh dua reklamasi, Bali dan Jakarta. Ketika dua kota penting Indonesia yang sebenarnya berjauhan ini dirundung masalah yang sama. Band Superman Is Dead berhasil mengumpulkan jutaan orang untuk menolak reklamasi Tanjung Benoa. Termasuk kita yang di Jakarta ikut teriak satu suara.

Kepekaan kita pada Bali hilang tak berjejak saat ibukota negara diancam isu yang sama. Bahkan Superman Is Dead yang vocal ikut terdiam. Berharap Slank yang bersuara? Duh gusti, maafkan kebodohan saya ini. Kita di Jakarta berkeyakinan bahwa reklamasi di Bali beda peruntukannya dengan Jakarta. Padahal sama-sama reklamasi, sama-sama men-darat-kan lautan (ibukota). celakanya, ketika ditanya apa yang membedakan dua reklamasi ini, tidak ada yang bisa menjawab.

Kita mengagungkan mereka yang menentang laut dewata berubah fungsi alamaiahnya dengan kemungkinan buruk yang kelak terjadi. Sementara di Jakarta? Tidak ada yang lebih agung selain berteman sesama mereka sambil berseloroh primitif pada orang-orang menentang laut ibukota yang tengah diambang perubahan wujudnya.

Beberapa tahun ini, nafsu politik telah menjatuhkan harga diri kita hingga titik paling nadir. Hancurnya pertemanan karena yang satu mempermasalahkan agama dan yang satu tidak, menabikan sosok petahana dan yang satu tidak, mengkritik keras yang berlawanan dengan kita sementara yang satu tidak. Semua itu kita lakukan dari hal paling dasar hingga pada titik yang sebenarnya di luar jangkauan. Tapi kita tetap memaksakan diri untuk melakukan itu hanya demi dia yang kita tuan-agungkan. Lihat apa yang terjadi pada trah Soekarna sekarang, ketika putri yang satu lalu-lalang berdampingan dengan presiden, sementara putri lainnya diburu aparat karena diduga ingin menjatuhkan presiden.

Si putri yang bergerilya tentu tak sendiri. Bersama beberapa kolega ia ditangkap tepat di hari bersejarah, 212. Kita tentu anti dengan tindakan represif seperti penangkapan yang hanya bermodal “diduga”. Sialnya, beberapa dari kita ikut bersuka saat Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rahmawati Soekarnoputri, Sri Bintang, dan lainnya dibawa ke polda metro jaya bahkan saat matahari belum menampakkan diri, selayaknya tentara yang gembira kala menyeret Wiji Thukul dan kawan-kawannya ditangkap dengan tuduhan yang sama.

Ya, kita lupa dengan apa yang dulu sempat kita lawan. Kita lupa jika dulu kita pernah bicara “TIDAK” dan sekarang kita hanya bisa bilang “IYA” pada si penguasa. Suka atau tidak, Susilo Bambang Yudhoyono tak pernah sekalipun menangkap Fadjroel Rachman yang ketika itu itu lantang bersuara ingin menjatuhkan SBY dan sempat ingin mengkudetanya dari kursi presiden. Fadjroel yang mempunyai kekuatan media saja tidak pernah disentil SBY, kenapa sekarang kita begitu takut dengan orang-orang macam Ahmad Dhani dan Ratna Sarumpaet yang tidak memiliki kekuatan apa-apa?

Kepentingan dan hawa nafsu pula yang tampaknya membuat Ahmad Sahal kehilangan nalar ilmiahnya. Kini, ia hanya peduli pada akhlak umat yang tidak memilih calon yang sama dengannya. Toleransi yang ia junjung memang masih menjadi senjata andalan, namun tak jarang, apa yang ia katakan melampaui batas pembahasan yang sedang dikaji. Seperti saat ia menyerang Pandji Pragiwaksono yang berlawanan pilihan dengannya.

Gus Sahal (setidaknya itu sapaan netizen padanya) dengan yakin mempertanyakan komitmen idolanya Pandji yang hanya menyambangi FPI tapi tidak berani mendatangi kaum minoritas lainnya seperti Syiah, Ahmadiyah, dan….LGBT. seperti yang kita ketahui, kaum Syiah yang sempat bermasalah terjadi di Sampang, Madura. Bukan Jakarta. Sementara Ahmadiyah juga sempat geger di Bogor. Bukan Jakarta.  sementara kita sedang berbicara pilkada Jakarta, bukan daerah lainnya. Sementara LGBT? Saya gantian bertanya, apakah orang yang sudah banyak menafsirkan hadist dan beberapa ayat Al’quran ini pro LGBT?

Ahmad Sahal juga sepertinya hanya menaruh perhatian pada orang-orang yang sepaham pilihan dengannya atau yang berseberangan sekalian agar bisa ia ceramahi dan meng-ISIS-kan mereka. Sementara saya, siapa sih saya? Tak pernah sekalipun mention saya dibalas beliau. Yang menyakitkan hati adalah ketika beliau bercuit “menyerahkan kasus Ahok pada proses hukum=menerima apapun keputusan hukum. Kalo Ahok diputus nggak salah, ya jangan ngancam-ngancam dan ngamuk-ngamuk,” sebuah pernyataan tendesius, menurut saya. “menerima apapun keputusan hukum” tapi mengapa hanya “kalo Ahok diputus nggak bersalah” saja yang ia pertanyakan?

Ini pula yang membuat saya tertawa geli membacanya sekaligus membalikkan pertanyaan Gus Sahal “kalo misal, misal lho ya. Ahok diputus bersalah, gimana?,” sudah barang tentu beliau tak sanggup menerima kenyataan itu dan tak mampu untuk tidak ngamuk-ngamuk di linimasa. hingga kini, pertanyaan sederhana itu pun urung ia jawab.

Seberapa hebatkah pemimpin sekarang sehingga tiap kesalahan yang ia perbuat terasa berat untuk kita kritisi? Seberapa manusiawi kah pemimpin kita, sehingga tiap dalam ketidaktahuan kebijakan yang dibuat kita ikut lupa pada sebuah kesalahan fatal? Seberapa besarkan pemimpin kita, sehingga apa yang ia ucap menjadi kebenaran bagi kita semua? Seberapa pintarkah pemimpin kita, sehingga semua kebijakan yang diambil kita yakini seakan datang dari tuhan? Yang kemudian menuduh mereka yang tak sepaham sebagai kumpulan orang radikal, curut ISIS, otak (nanah) sesat, dan melenceng dari ajaran tuhan yang penuh cinta? Dan, seberapa sucinya pemimpin kita sehingga kita rela hancur oleh adu domba, akibat ketamakan mereka?

Untuk menjadi objektif saja, kita harus menjadi bagian dari mereka. Sedikit saja melenceng, bersiap diserbu oleh teman-temannya. Seperti Ulil Abshar Abdalla yang langsung dihardik “duh, mas Ulil kok udah nggak objektif lagi ya? Udah beda sekarang. Mas Ulil punya kepentingan ya sekarang? Oh iya, partainya kan punya calon juga,” saat Ulil baru sekali saja mengkritisi calon petahana.

Saya bukanlah pembenci petahana. Saya justru memilih petahana untuk kembali duduk di balai kota, sekalipun saya bukan warganya. Saya hanya pembenci sebagian dari kita yang selalu mendewakan penguasa dan membutakan mata kita, membisukan suara kita, menulikan pendengaran kita pada sebuah kebenaran lain yang terjadi dihadapan kita.

Sadarkah kita jika tiap kontroversi yang selalu ia cipta berbuah dari kebodohan kita yang selalu membela? Ia tak pernah belajar dari apa yang selama ini dia ucap karena selalu ada kita yang membela mati-matian tanpa sekalipun mengkritisi apa yang dia buat? Ingat, seburuk-buruknya pemimpin akan baik pula jika dalam tiap perbuatannya selalu kita ingatkan dan kita kritisi. Sebaliknya, sebaik apapun pemimpin, ia akan menjadi buruk jika dalam tiap tindak-tanduknya selalu kita bela, sekalipun itu salah. Sehingga membuat dia bisa berbuat seenaknya karena banyak dari kita yang akan rela menerima kesalahannya.



27 komentar:

  1. Konsisten itu mahal Jenderal :-D

    BalasHapus
  2. Nice post.
    Walau kurang suka "POLITIK", namun aku menikmati tulisa ini.
    Mantapp.

    BalasHapus
  3. Suka banget sama tulisan ini. Tapi speechless mau komen apa.
    Yang aku tahu, kalau siap menerima keputusan apa pun, ya keputusan apa pun yang mungkin terjadi (bersalah atau tidak) ya harus diterima lapang dada. Ini berlaku buat semua pihak. Terlepas dari benarkah hasil akhirnya itu adil atau tidak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Dian. Hehehe

      Semoga semua Masih punya akal sehat dukung jagoannya massing masing hehe

      Hapus
  4. Saya juga agak gerah dan mulai bosan dengan segala riuh yang ada di lini masa. Semua bertahan dengan keyakinannya masing-masing, hingga bisa memutuskan tali pertemanan.
    Sebagai masyarakat, saya mah hanya berharap, yang benar ditunjukkan kebenarannya, dan yang salah ditunjukkan kesalahannya #eh, apasih :)

    BalasHapus
  5. Kerasa banget.
    Mendadak semua jadi ahli politik dan ahli agama.

    Dengan berpihak pada salah satunya dan menyalahkan pihak yang lain, maka akan semakin terlihat..."Orang macam apa saya ini?"


    Saya cukup berbicara seperlunya.
    Dan hanya berkata apa yang saya kuasai.

    Semoga budaya sabar ini diajarkan dari lingkup terkecil.
    (sabar = menahan diri)

    BalasHapus
  6. Postingannya menarik, Mas. Emang, nyebelin ya, semua kubu pada bersikap defensif tapi nyerang juga. Ga ada yg terkecuali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Susah emang Kalo udah ngerasa paling bener Dan ngejelekin yg lain

      Hapus
  7. Bosan juga dengan pemberitaan politik. Dulu saya suka siaran televisi tentang berita, sekarang mah ... ogah banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaa mas. Saya pun udah jarang nonton berita. Karena ragu dengan objektivitasnya

      Hapus
  8. Yg jelas saya menahan diri utk tidak mudah percaya maupun terprovokasi dgn keriuhan politik. Lama2 sedih liat kondisi saat ini, inget2 nasib anak cucu kelak gmn, moga lbh baik aamiin

    BalasHapus
  9. Semoga urusan pilkada ini cepet selesai dan dapat pemimpin yang amanah
    aku dah lelah liat perang di socmed

    BalasHapus
  10. Iya mas, aku pun. Entah merekanya yang butuh piknik, apa kitanya yg butuh piknik biar nggak mikirin pulitik

    BalasHapus
  11. Nice post, gan...

    *mencoba nyepam*

    BalasHapus
  12. setakat ini saya menjauhi politik mas.. karena hanya karena beda pilihan saja, suami-istri bisa renggang.. dan sejauh saya membaca.. yg ada makin pecah belah saja bangsa ini :(

    BalasHapus
  13. Baca tulisan ini, Jadi ingat pilkades di kampung saya +/- setahun lalu masih menyisakan kebencian antar warga hingga saat ini. Mirisss banget

    BalasHapus
  14. Mau ngomong berbusa, aku jg gak milih di Jakarta. Dan heran bgt knapa itu dua putri gak satu jalan ya. Apa dulu ada semacam persaingan? Semoga pemilihan nanti kita bs memilih org yg lbh baik

    BalasHapus
  15. Postingannya seperti rangkuman berita politik bg sy yg kudet tentang politik. Semoga kita ke depannya tdk lg mudah terbelah hanya karena pilihan yg berbeda.

    BalasHapus
  16. Saya cukup mengikuti aja deh apa maunya negeri ini. Mudah2an lebih baik lagi.

    BalasHapus
  17. Dan kita menjadi sibuk tak karuan dengan perebutan kekuasaan. Saat hawa nafsu jadi motivasi,alquran pun rela diletakan di belakang.ditafsirkan sesuai kehendak hati

    BalasHapus
  18. Karena gerah dengan pembahasan calon ini calon itu, lama-lama politik ini jadi sampah timeline. #eh

    BalasHapus
  19. politik ane tak terlalu suka, yang baik jadi buruk, begitu pun sebaliknya, hehehe. tapi bagaimana pun kita harus tahu tentang politik

    BalasHapus
  20. Well, kebanyakan dari kita hanya menyetujui dan mendukung terhadap apa yang kita 'sukai' aja. Kaya misalnya gue bilang liverpool itu sampah, calon degradasi, lu pasti ga setuju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gw tetep bilang Liverpool bapuk Kalo kalah atau mainnya lagi jelek. Gw ga tutup Mata hal itu. Masalahnya Politik ini (khususnya pilkada) mereka menjilatnya kebangetan, nggak wajar.

      Hapus