Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hiburan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2019

gambar: fikse.ummgl.ac.id


Belakangan, banyak beredar tulisan sampah di berbagai media online. Ya, sudah cukup lama sebenarnya, jadi enggak belakangan-belakangan amat.

Akan tetapi, sebenarnya tulisan-tulisan yang dimaksud itu tidaklah sampah-sampah amat. Setidaknya tulisan mereka masih lebih dari tiga paragraf.

Jadi di sini, saya ingin ungkapkan bahwa tulisan sampah sebenarnya adalah........ya tulisan ini. Sudah tak ada isinya, judul clickbait, niatnya cuma biar blog enggak kosong kelamaan, dan pas tiga paragraf pula. Tapi sebenarnya yang sampah belakangan ini bukan cuma tulisan saja, ada juga teori sampah. Enggak percaya? Sila tanyakan ke Steven!

Jumat, 19 April 2019

Udah? Udah? Udah copras-capresnya? Udah cebong-kampretnya? Udah klaim kemenangannya? Selesai sudah keruwetan negara seiring berakhirnya Pemilu dan Pilpres 17 April kemarin. Sekarang hingga seterusnya kita bisa kembali hidup tenang tanpa dipisahkan antara 01 maupun 02. Tapi tentu, ini tidak menjamin apa-apa.

Walau begitu, saya setidaknya pantas berterima kasih dengan diselenggarakannya Pemilu pada Rabu kemarin. Berkat pesta demokrasi inilah mata batin saya kembali terbuka untuk menghidupkan lagi wandasyafii ini.

Adalah Andhika Manggala orang pertama yang membuat saya ingin kembali menulis di blog. Secara tidak langsung memang pengaruh yang dia berikan, tapi cukup berdampak signifikan dengan gairah ngeblog saya.

Suatu siang, Ketua Umum Warung Blogger yang akrab disapa Ucha ini meminta saya untuk membantunya dalam menyelesaikan tulisan berjudul "Setelah 17 April" di blognya. Setelah tanya ini tanya itu, saya menyanggupi permintaannya. Sayang, 400-an kata yang sudah saya setorkan tidak pernah benar-benar muncul di blognya.

Tapi dari situlah saya mulai sadar dan ingin kembali menulis di blog. Satu hari sebelum pencoblosan, wandasyafii pun lahir kembali dengan segala macam pertimbangan. Dua kawan saya, Andhika dan Yosfiqar Iqbal meminta saya untuk berpikir ulang sebelum ngeblog lagi.

Tujuan mereka jelas, mereka tidak ingin keinginan saya menghidupkan wandasyafii ini hanya karena semangat sesaat. "Wan mending senang-senang dulu sama yang gratisan, kalo udah nemu ritme nulisnya baru suruh Ucha ngerjan," kata Bang Yos di Grup WhatsApp, yang kemudian diamini Ucha.

Apa yang dikatakan Bang Yos 100 persen benar. Sudah hampir dua tahun saya kesulitan menemui ritme nulis di blog seperti dulu. Hal ini juga yang menyebabkan wandasyafii mangkrak selama 256 hari. Ini bukan jumlah hari saya tidak menulis di blog, tapi jumlah hari saya tidak bayar domain. YHA!

Jika soal menulis di blog, saya lupa tepatnya berapa hari. Mungkin nyaris setahun mengingat tulisan terakhir saya di sini mengenai kiper Liverpool, Loris Karius, yang membuat blunder konyol di final Liga Champions 2018 lalu.

Omongan Bang Yos tersebut benar-benar menjadi cambuk buat saya. Apalagi hilangnya ritme ngeblog saya disebabkan oleh rutinitas pekerjaan yang sangat padat. Masalah ini bukan soal waktu saja, tapi juga gaya penulisan dan, ya, ritme tulisan yang cukup berubah drastis.

Begini, saya sekarang menjadi reporter di salah satu media sepak bola yang diwajibkan menulis 12 artikel perharinya. Belum lagi gaya penulisan hard news yang menjadi makanan sehari-hari membuat perlahan tapi pasti, saya terbawa irama menulis sebuah berita dengan segala tata krama yang ada di dalamnya.

Cara ini secara perlahan mengikis gaya lama saya dalam menulis blog. Dalam ngeblog, saya orang yang cukup ceplas-ceplos dengan tulisan lumayan panjang. Tapi lama kelamaan saya kesulitan menulis di atas 500-an kata. Hal ini terjadi karena kebiasaan pekerjaan yang mengharuskan bobot satu tulisan tak lebih dari 200-an kata.

Jika dilihat sekilas, hal di atas tidak cukup menjadi alasan. Tapi bagi saya, ini benar-benar jadi masalah. Jelas saya tidak menyalahkan pekerjaan dan rutinitas di kantor. Ini murni faktor dari saya pribadi yang malas, mudah lelah, dan jengah jika diharuskan menulis terus menerus.

Beberapa kali saya coba menulis lagi di blog. Setidaknya ada dua tulisan yang sempat saya bikin tapi tidak pernah selesai. Kenapa tidak selesai? Ya karena itu tadi, saya mulai kesulitan menulis panjang seperti dulu lagi.

Tapi belakangan saya seolah dberikan pertanda baik. Di kantor, saya beberapa kali dipercaya untuk menulis panjang, baik itu Artikel Khusus, Legenda, maupun E-Magazine. Bahkan di rubrik Legenda, tiga tulisan saya mencapai seribuan kata per-artikel. Treatment ini jelas sangat membantu mengembalikan ritme tulisan panjang saya yang dulu.

Berbekal dengan trend tersebut, ditambah "pancingan" yang dibuat Ucha, saya akhirnya memutuskan untuk kembali menghidupkan wandasyafii. Saya yakin dan percaya bahwa masalah-masalah di atas bisa kembali terjadi beberapa waktu ke depan.

Lalu, setelah memutuskan kembali, apakah saya akan hilang lagi dari dunia blogger? Entahlah. Yang jelas saya tidak bisa pastikan akan produktif ngeblog seminggu sekali atau sebulan sekali. Saya hanya ingin memastikan bahwa blog ini tidak akan kosong sampai tiga bulan lamanya.

Ada banyak cerita yang nantinya saya bagikan di sini. Soal anak yang baru lahir, atau apa pun itu. Akan banyak pula keluh kesah yang akan saya nyinyirkan di sini. Baik soal buzzer XL jika nanti juga kembali, perpolitikan indonesia ke depannya, atau masalah yang saat ini punya dampak masif pada sisi humanis kita, gim online.

Dengan mengucap Bismillah, semoga saja tidak ada kembali-kembali berikutnya!!!

gambar: steemit.com

Sabtu, 23 Desember 2017

Hujan selalu menemukan ceritanya sendiri di kehidupan manusia. Dengan segala jenis latar belakang ia hadir memenuhi ruang hidup kita. Hujan tidak hanya tentang mereka yang kehujanan, kebanjiran, atau mereka yang hanya menari-nari di film India. Ia sudah menjadi saksi bagaimana kita mengenal, berjalan, bertahan, hingga mengukir kisah-kisah yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tak perlu berapa kali hujan yang buat kita semakin dekat, saling menghangatkan dalam kedinginan yang cukup menusuk tulang. Bahkan disaat berada di tempat berbeda pun kita selalu merasa ada di ruang yang sama.

Hujan pertama datang tepat disaat kita memutuskan mengukir kisah berdua. Kita tertahan cukup lama hingga larut di tepian jalan, menikmati basah hingga ke tulang. Tapi itu lah indahnya, ketika kita bisa menangkap hangat genggaman pertama. Hingga pada dalam perjalanannya ia selalu mengiringi kita kemana pun tujuannya.

Kita bermula dengan cara yang menurut orang-orang tidak biasa. Bahkan terlalu berani, kata mereka. Namun, inilah kita. Membuat awal yang tak biasa berjalan luar biasa. Hingga sekarang, kita, atau aku setidaknya, masih tak menyangka bisa berujung hingga sedemikian rupa.

Kita membuat jarak yang terbentang sama sekali tak terasa. Menikmati bersama hingga akhirnya berada pada titik yang sebelumnya tak pernah aku lakukan sebelumnya. Dia adalah wanita pertama yang ku kenalkan pada keluarga hingga akhirnya mereka saling tatap muka. Ini adalah sebuah keberanian yang luar biasa, kata mereka. Ya, tidak satu wanita pun yang ku kenalkan langsung pada keluarga sebelumnya. Cuma dia.

Bahkan ada satu obrolan yang sangat jauh kita bicarakan. Di hadapan mereka aku berujar dan hingga saat ini ku pegang. Kita berproses kian jauh saat dia terhubung langsung dengan wanita yang turut melahirkanku. Wanita pertama yang ku cintai di dunia. Satu hal yang tak  dapat disangka sebelumnya. Apalagi, ibu sendiri yang minta dikenalkan.

Tentu awalnya saya takut karena saya kenal bagaimana responnya pada orang lain. Tapi niatnya yang memang ingin mengenal satu-satunya wanita yang bukan dari rahimnya dalam keluarga membuat saya luluh dan membiarkan mereka bercengkrama. Mereka akhirnya saling bercerita. Bahkan ibu lebih sering menghubunginya daripada berbicara dengan saya.

Dia yang saat pertama bertemu dengan keluarga saya sangat kikuk, tampak cukup leluasa berbicara dengan ibu. Ya mungkin karena hanya lewat gawainya. Entah bagaimana rupanya jika bertatap muka.

Kita terus berjalan dengan entah berapa kali hujan dan berapa waktu dihabiskan di tepi jalan. Tapi sebab itu lah cerita kita berbeda sedari awal. Kebersamaan yang kita jaga di sela waktu dalam bekerja menjadi kenikmatan tersendiri. Kita berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang kita inginkan. Hingga akhirnya beberapa perbedaan turut serta dalam cerita. Aku pindah kerja, yang otomatis membuat waktu Bersama berantakan, sekalipun jarak semakin dekat. Dengan apa yang selama ini telah kami lewati, semua akhir kembali pada waktu. Waktu akan perubahan, atau juga pada kekurangan satu sama lain.

Pada akhirnya kita dengan terpaksa menjadi siapa. Hujan yang membuat semua cerita turut mengambilkannya. Membuat tidak ada lagi rindu yang tercipta pada dirinya, tak ada pula tatapan hangat darinya. Mata kami tak lagi bertemu di sore itu, sekalipun aku tak pernah mengalihkan mata dari wajahnya. Tapi, tentu genggaman terakhir masih terasa sama seperti yang pertama. Tapi mungkin itu hanya bagiku, entah baginya.

Manusia memang tidak ada yang sama. Semua tercipta berbeda, hanya tinggal bagaimana kita yang menyatukannya. Banyak yang bersatu karena perbedaan, tapi memang tidak sedikit pula yang terpisah dan saling serang karenanya. Dan kita? Salah satu diantara kita memilih kalah atas perbedaan tersebut.


Selain mati yang tak punya jawabannya di dunia. Keputusan siapa, apa, atau apa pun itu namanya juga tak keluar dari bibirnya . Banyak pertanyaan yang terlontar, tapi sebanyak itu pula mulutnya bungkam. Biarlah. Biar dia yang tahu apa sebenarnya, karena mungkin jawaban sesungguhnya akan sakit untuk diterima. Sedangkan saya? Saya cukup berfantasi dengan praduga yang hilir mudik di kepala.

gambar: pinterest.com

Minggu, 10 Desember 2017


Di Italia, AC Milan adalah klub raksasa. Bersama Juventus dan Inter Milan, mereka bergantian menguasai Serie A. Namun, apa yang ditunjukkan beberapa tahun ke belakang tentu tidak mencerminkan Milan yang sebenarnya. Dengan Inter yang juga kehilangan arah, dua sekota ini terlempar dari persaingan, tidak hanya tiga besar, tapi juga pentas Eropa.

Baik Milan dan Inter seakan bernasib sama dengan klub-klub Indonesia yang kolaps secara prestasi ketika dana APBD dicabut untuk kegiatan sepak bola. Ya, keduanya tidak bisa berbuat banyak ketika tim dililit hutang yang berimbas pada kekuatan pemain yang dimiliki.

Salah satu cara yang dianggap ampuh adalah mendatangkan investor baru untuk memulihkan keuangan tim. Dan keduanya lagi-lagi kompak dalam hal ini. Inter mendahului sang tetangga ketika mendapuk Suning Grup sebagai pemilik klub. Sedangkan I Rossoneri baru beberapa bulan ini dikendalikan oleh Yonghong Li, yang katanya pengusaha tajir Tiongkok.

Namun, di sinilah perbedaan mereka. Milan langsung menggebrak dengan limpahan 12 pemain baru, hanya di musim ini saja. Sedangkan Suning masih dipusingkan dengan keseimbangan neraca keuangan klub sehingga harus berpikir sekian kali untuk menghamburkan uang 200 juta Euro. Bahkan jika digabung dengan dana transfer musim lalu, Suning belum melampaui uang yang dikeluarkan kompatriotnya itu di Milanello musim ini.

I Rossoneri sejatinya sudah berada pada trek yang benar musim lalu. Bersama Vincenzo Montella, mereka kembali menapaki kompetisi Eropa, meskipun hanya sekelas Liga Europa. Setidaknya, prestasi ini lebih baik dari Inter yang lagi-lagi tak tersentuh kompetisi regional.

Dengan pemain yang masih apa adanya, Montella berhasil membuat Milan bermain konsisten sepanjang musim. Bahkan ia suskses menaklukkan Juventus musim lalu. Tapi entah kenapa tuah tersebut tidak berbekas musim ini. Padahal, legenda AS Roma tersebut punya modal lebih bagus nan mumpuni.

Sedangkan Inter, dengan jumlah pemain yang didatangkan musim ini yang hanya setengahnya dari Milan, mereka mampu bertengger di puncak klasemen. Bahkan, sepanjang musim 2017-2018, Skuat Luciano Spalletti belum tersentuh kekalahan. 

gambar dibikinin @andhikamppp
Performa Suso dkk justru limbung musim 2017-2018. Euforia tifosi pun hanya sebatas laga pertama di kualifikasi Liga Europa ketika membenamkan klub asal Makedonia, Shkendija, 6-0, dan tim-tim semenjana lainnya. Itu pun di awal musim. Setelahnya, Milan secara bergantian dilumat oleh klub  Serie A, seperti Lazio, AS Roma, Sampdoria, Inter, dan Napoli.

Rentetan kekalahan dan hasil imbang membuat posisi Montella di ujung tanduk. Hingga akhirnya skor 0- 0 kontra Torino membuat ia harus melepas jabatannya dua hari setelah pertandingan. Menariknya, keputusan itu hanya berselang sehari setelah Massimiliano Mirabelli mengatakan Milan sudah berada di jalur yang tepat bersama eks pelatih Fiorentina tersebut.

Tifosi kemudian gembira mendengar kabar pemecatan itu. Mereka yang tadinya enggan menyaksikan klub kesayangan bertanding selama Montella masih memegang kendali, mulai berani begadang lagi demi melihat 12 pemain baru berlari di lapangan. Namun, di sinilah klub pujaannya mengulang kesalahan yang sama ketika menunjuk Gennaro Gattuso.

Ketika memberhentikan Massimiliano Allegri beberapa musim lalu, Adriano Galliani mengumpulkan legenda klub yang sudah pensiun untuk memulai legacy baru di San Siro. Mulai dari Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, hingga…Christian Brocchi untuk menjadi juru taktik klub pemilik 7 gelar Liga Champions tersebut.

Hasilnya? Tidak hanya nihil, tapi mubazir. Tiga legenda satu generasi itu hanya berkarier singkat dan kian memperkuat status Milan sebagai klub medioker. Masalah keuangan mungkin alasan yang tepat bagi klub untuk mengontrak para debutan itu. Jangankan pelatih, pemain yang didatangkan pun mayoritas hanya berstatus bebas transfer, alias gratis.

Ingin memutus hal tersebut, Galliani memanggil allenatore yang sedang naik daun bersama Sampdoria ketika itu, Sinisa Mihajlovic. Perlu diketahui, penunjukkan ini menyakitkan hati saya sebagai fans pemain yang pernah mencetak hat-trick lewat tendangan bebas itu. Tapi keberadaan Miha nyatanya tidak membuat klub semakin baik. Ia tercatat hanya sukses memproklamirkan Gianluigi Donnarumma dan Alessio Romagnoli sebagai bintang masa depan Il Diavolo Rosso.

Pria Serbia akhirnya diganti oleh Montella, yang juga pernah melatih Sampdoria. Sempat menanjak dengan pemain seadanya di musim pertama, peraih scudetto bersama Roma ketika masih menjadi pemain ini tak berkutik ketika dihadiahi skuat baru sehingga tim diambil alih oleh Rhino yang sebelumnya menjadi Indra Sjafri-nya Milan di U-19.


Satu hal yang diingat banyak orang ketika mendengar nama Gattuso tentu saja sikapnya yang suka berapi-api di lapangan ketika masih aktif bermain – alih-alih prestasi selama menjadi pelatih. Bagaimana tidak, empat tim antah berantah yang ia latih hanya membuat cv-nya jelek.

Menukangi FC Sion, Palermo, Pisa, dan OFI Crete, pria 39 tahun itu tidak pernah menyelesaikan kontraknya. Kariernya selalu berujung pada pemecatan. Menilik pada catatan tersebut, Milan bukan saja mencoba bunuh diri, tapi juga mencari mati, mengingat peran pelatih sangat vital dalam sebuah tim.


Jika manajemen ingin melestarikan para legenda, kenapa mereka tidak memanggil pulang Inzaghi, yang kini sukses membawa Venezia promosi ke Serie B saja? Atau Massimo Oddo, yang meski belum berprestasi tapi karier manajerialnya lebih mumpuni dari pelatih yang semasa bermain dijuluki Hariono-nya Milan tersebut.

Kiprah Gattuso dengan status barunya ini pun mulai bisa ditebak. Ia gagal menang melawan Benevento di laga debut. Untuk diketahui, Benevento adalah satu-satunya tim di lima liga top Eropa yang belum meraih satu poin pun. Heroiknya, poin pertama mereka raih ketika kiper Alberto Brignoli membobol gawang Donnarumma di menit 95 hingga membuat Gattuso tidak bisa tidur setelahnya.

Tidak puas imbang dengan Benevento, Milan kemudian ditaklukkan Rijeka 0-2 di Liga Europa. Mungkin kekalahan ini masih bisa dimaklumi karena dua hal. Pertama, I Rossoneri sudah memastikan lolos ke babak berikutnya. Kedua, pemain yang diturunkan adalah pemain lapis kedua. Oke, klasik. Tapi ya terima saja, toh ada waktunya kita beralasan demikian.

“Performa tim di lapangan adalah tanggung jawab saya sebagai pelatih. Pelatih akan selalu menjadi orang terdepan yang disalahkan pada performa klubnya dan akan selalu begitu,” kurang lebih seperti itulah kata Montella sesaat dirinya dipecat. Dan memang benar, kegagalan sebuah tim adalah kesalahan mutlak juru taktik. Itu sudah menjadi hukum di sepak bola dan tidak bisa dibantah lagi.

Tapi hal lain yang dilupakan Milanisti adalah keberadaan Marco Fassone di belakang layar. Selain mengulang kesalahan dalam menentukan pelatih, klub yang berdiri pada 1899 lampau ini juga mengulang kesalahan Inter saat mempekerjakan pria yang sekilas mirip Lee Mason tersebut. Iya, wasit yang larinya lebih cepat dari Jesse Lingard itu.

Fassone adalah orang di balik transfer-transfer Inter di pada medio 2012 hingga 2015. Saya tidak perlu menyebutkan siapa saja pemain yang ia datangkan ke Appiano Gentile ketika itu. Kalian cukup lihat I Nerazzuri di tabel klasemen saja. Kini dengan kekuatan uang yang dimiliki Milan, kepekaan Fassone terhadap kebutuhan tim tidak juga membaik.

Leonardo Bonucci kini jadi pesakitan di Milan. Ingat gol pemain Austria Wien di San Siro pertengahan November lalu? Atau bagaimana Andre Silva yang tokcer di Timnas Portugal justru belum mencetak satu gol pun di Serie A. Malah hanya seorang Fabio Borini yang mampu tampil konsisten sepanjang musim ini. Oke, maaf.

Jadi, fans Milan tidak perlu lah senang dengan pemecatan Montella dan bangga pada penunjukkan Gattuso. Trofi Liga Champions dan scudetto saat menjadi pemain bukan jadi jaminan saat jadi pelatih. Diego Maradona yang didapuk sebagai tuhan oleh publik Argentina saat masih bermain saja kembali jadi manusia biasa ketika menangani Albiceleste.

Kalau pun keluguan kalian masih berpegang teguh dengan capaian seperti itu, tidak perlu Gattuso yang turun gunung, cukup Valerio Fiori saja. Selain sama-sama setia bersama I Rossoneri, torehan trofinya juga mentereng di Milan. Dan yang pasti pria yang sudah pensiun sejak 2008 silam ini tidak pernah terpeleset.

Tapi, setidaknya Gattuso sudah menunjukkan kemajuan ketika mengalahkan Bologna 2-1 pada giornata ke-16. Ia membawa timnya menang disaat Inter, Juventus, Napoli, dan AS Roma imbang. Serta tentu saja ketika tribun San Siro lebih sepi dari sebelumnya. 





Rabu, 18 Oktober 2017


Jakarta baru saja melantik pemimpin barunya. Tanda-tanda kemajuan ibu kota kian terasa di depan mata. Ya... Setidaknya untuk saya. Karena dua pribumi itu lah saya nulis lagi di blog ini. 

Tadinya saya seolah dikutuk karena tidak menulis pasca-tulisan buzzer xl beberapa bulan lalu. Tapi sehari setelah gubernur dilantik saya baru sadar ternyata memang saya malas. Bukan pula karena buzzer yang sudah merambah dunia akting ratusan episode.

Sebenarnya saya punya tulisan baru pada pertengahan September lalu. Tapi entah ini persekutuan tuhan atau apa, akhirnya saya baru memutuskan nulisnya sekarang.  

Saya tahu, pak anis dan bang sandi masih kelimpungan, kaget, dan kaku menjalani amanah baru ini. Ada pun saya sebagai warga Jakarta pinggiran pemuja ibu Airin ingin merekomendasikan orang-orang yang cakap untuk membantu kinerja bapak dan abang. Yang pasti, mereka adalah pribumi tulen. 

tribunnews.com

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit. Awal dibentuknya kabinet kerja Presiden Jokowi, beliau sempat dikritik karena mempekerjakan orang-orang yang dekat dengan Megawati (saya tidak perlu jelaskan siapa orang ini). 

Dengan santai presiden menjawab "Ya kalo ada orang yang dekat dan kita kenal baik, kenapa harus pake orang yang nggak kita kenal,"  kira-kira begitu lah intinya. 

Atas dasar itu pula saya memberanikan diri untuk memberi sedikit masukan pada Pak Gub dan Bang Wagub baru. Sekiranya nanti orang-orang ini mampu membuat Jakarta jauh lebih baik, saya bersedia selipkan nomor rekening agar bapak tidak bingung harus berterima kasih ke mana. 



Mungkin orang-orang seperti Fahri Hamzah, Pandji, Ahmad Dani, terlebih lagi Fadli Zon (yang menurut kawan saya, orang ini masa muda nya seorang tekno-blogger) bisa menjadi bumerang bagi elektabilitas bapak, saya berani jamin orang-orang yang saya rekomendasikan ini akan memperkuat posisi bapak di balai kota. 

Pak Anis dan Bang Sandi mesti tahu, di balik jutaan harap warga dki, nama Yosfiqar, atau yang akrab disapa Naq Ummi dengan sebutan Iqbal ini merupakan orang yang pertama mengucap takbir setelah anda berdua dinyatakan menang.

Ia bisa dijadikan alat propaganda laiknya Pandji di media sosial. Kemampuan keduanya pun setara, Pandji bahkan masih beberapa tingkat di bawahnya. Ia  bisa menggiring opini publik tanpa ada yang tersakiti. Asal jangan ada yang mengungkit selebrasi jemur baju ala Mauro Icardi, surga dunia maya ada digenggaman.



Bayangkan, ketika dia diserang, misalnya dari Tsamara Amany perihal pribumi, dengan menawan Bang Yos berkata "Pribumi pribumi apa yang bikin nggak bisa tidur?" saya berani bertaruh Dik Sam langsung mengucap ampun sambil bertekuk lutut.


Seperti pula Pandji yang kerap mengajak para Stand Up Comedy-an muda tur luar kota, Bang Yos senantiasa membawa netizen liburan ke beberapa spot pilihan tanpa harus memilah jumlah follower dan bagian dari blogger hits atau bukan. 

Orang kedua yang kompeten adalah Fandi. Kita semua tahu Pak Anis bisa menenggelamkan rakyat hanya bermodalkan kata. Keberadaan Fandi di dalam tim saya rasa sangat dibutuhkan untuk memperkuat harmonisasi keduanya. 

Sekiranya Pak Anis atau Bang Sandi ingin nulis buku biografi, sudah ada Fandi yang membantu. Jika ini tercapai, saya yakin buku tersebut tebalnya akan melebihi buku Ensiklopedia Islam yang dulu saya baca di perpustakaan sekolah.

Selain itu, Fandi bisa dijadikan penulis teks pidato kenegaraan atau juru bicara sekalian. Asal jangan diposisikan sebagai admin pemda di twitter. Karena bisa jadi upaya media sosial berlambang burung itu menambah karakter menjadi 280 kata bisa sia-sia. 

Selanjutnya, saya rasa keberadaan orang ini sangat fundamental. Namanya Andhika, atau Ia lebih ikhlas namanya disebut Ucha. Layaknya ungkapan "apa artinya Fahri Hamzah tanpa Fadli Zon" ini pula yang terjadi jika keberadaan Bang Yos tak diimbangi dengan kehadiran Ucha di sampingnya. 

Pak Anis, Bang Sandi. Ucha ini fighter ulung, perusak mental orang, senantiasa menjatuhkan lawan di segala medan. Jika Fahri Hamzah dianggap sudah overrated, Ucha lah yang pas menggantikan. Terlebih lawan politik anda ada yang jomblo dan tidak mendapat perhatian, serahkan padanya.


Kendati suka berapi-api, apa yang dia suarakan ada benarnya. Banyak malah. Persis seperti politisi PKS itu. Jadi, daripada dia selalu dikaitkan dengan vokalis band yang merupakan aset bangsa, lebih baik Ucha mendapat posisi yang layak di tim anda. 

Dengan kondisi anda yang insyaallah banyak hatersnya, keberadaan Ucha sangat penting demi menjaga bargain politik dihadapan penguasa negeri. Yang penting adalah dia tidak perlu digaji, cukup bayar dengan buku Tere Liye, bahagia dia.

Satu orang yang dirasa perlu mengimbangi dream team ini adalah Oky Maulana Saraswati. Apa artinya tim yang kuat tanpa makanan yang berkhasiat? Dengan bekaldarinyokap, baik Bang Yos, Fandi, dan Ucha bisa bekerja lebih maksimal. 

Oky juga bisa menjadi penengah jika sewaktu-waktu Ucha mempertanyakan kesendirian Bang Yos. Dan yang paling penting adalah Oky bisa dengan lembut menyerang buzzer lawan.