Tampilkan postingan dengan label Real Madrid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Real Madrid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juni 2017

Final Liga Champions musim ini akan terasa berbeda pula istimewa. Bagaimana tidak, duel dua kiblat sepak bola Eropa menjadi tajuk utama ketika mereka harus saling sikut di laga pamungkas.
image: mirror.co.uk

Juventus adalah tim besar Italia yang memimpin perolehan trofi domestik selama enam musim terakhir. Bintang tiga pun sudah pantas melingkar di dada panji hitam putih untuk musim depan. Belanja besar nan pintar dari manajemen si nyonya tua harus kita akui berbuah manis.

Sementara Real Madrid, siapa yang tidak mengenal tim ini. Galacticos berjilid yang digelorakan Florentino Perez memang telah membuat tim ibukota Spanyol ini menjadi brand penting sepak bola di era industri. Keberhasilan El Real membangun image di dunia showbiz berbanding lurus dengan apa yang mereka raih di lapangan. Keberhasilan mereka meraih gelar La Liga musim ini menjadi bukti menanjaknya performa skuad Zinedine Zidane.

Kedua kubu tentu bukan kali ini saja bertemu di kompetisi Eropa. Mereka sudah beberapa kali bersua di ajang yang sama sejak dulu. Dari data yang dilansir situs UEFA.com, sejarah pertemuan kedua kesebelasan masih sama kuat. Dari total 16 pertemuan, Juve dan Madrid sama-sama mengemas delapan kemenangan dan dua hasil imbang.

Namun Si Nyonya Tua patut jumawa jika menilik sembilan laga terakhir keduanya. Juventus berhasil memenangkan lima pertandingan sebelumnya. Dan berbanding dengan tiga kemenangan dari pihak Real Madrid. Sedangkan satu pertandingan berakhir imbang.

Jika dilihat dari riwayat pertemuan, Christiano Ronaldo dan kolega wajib waspada dengan ledakan tak terkira dari skuat Massimiliano Allegri. Setidaknya pertemuan terakhir kedua kesebelasan menjadi cerminan, di mana Juventus yang ketika itu tidak diunggulkan mampu menyingkirkan El Real di semifinal UCL dua musim lalu.

Alvaro Morrata, yang ketika itu menjadi penentu laju Juventus ke final kini telah kembali ke Madrid dan siap memberikan terapi kejut pada mantan rekan-rekan setimnya. La Vecchia Signora sendiri bukanlah tanpa amunisi wahid, duet Argentina dalam diri Paulo Dybala-Gonzalo Higuain menjadi jaminan mutu pasukan Allegri akan mengobrak-abrik pertahan Madrid yang dikomandoi sang kapten, Sergio Ramos.

Kehilangan Paul Pogba dan Arturo Vidal tampaknya bukan jadi penghambat performa tim asal Turin tersebut. Terbukti mereka tetap solid dan kokoh di lini tengah. Makin krusialnya peran Miralem Pjanic, Juan Cuadrado, dan Sami Khedira dalam mengalirkan permainan tim menjadi bukti kokohnya lini tengah nyonya besar. belum lagi kecerdikan Paulo Dybala yang membuat Bracelona pulang lebih awal di liga Champions musim ini semakin membuat lini serang Juventus menakutkan.
image: 101greatgoals.com

Di kubu seberang, Real Madrid tidak begitu signifikan merubah skuad mereka. Lini perlini Los Merenggues mayoritas masih dihuni tim Ancelotti kala mereka dikalahkan Juve dua musim lalu. Zidane tampaknya masih sangat percaya dengan Tony Kroos, Luca Modric, Dani Carvahal, Gareth Bale, dan Ronaldo.

Muka-muka lama di atas pun makin padu dengan talenta-talenta baru yang dimiliki El Real seperti Casemiro, Keylor Navas, Marco Asensio, dan tentu saja Alvaro Morrata. Mereka menjadi pelengkap taktik Zidane yang memang memberlakukan rotasi dibeberapa laga. Kebijakan sang entrenador pun berbuah trofi La Liga pertama setelah lima tahun puasa gelar.

perjalanan kedua kesebelasan di liga champions musim ini memang tak begitu jauh berbeda. Keduanya melaju mulus dari babak pertama hingga partai puncak. Meski sama-sama menghadapi lawan berat di perempat final (Real Madrid bertemu Bayern Munchen, sementara Juventus menghadapi Barcelona) keduanya mampu melewati lawan-lawannya. Juve berhasil membenamkan El Barca dengan agregat 3-0, sedangkan Zidane berhasil memukul mundur sang guru, Carlo Ancelotti lewat perpanjangan waktu.

Walau demikian, tim asal Italia lebih menjanjikan dari segi pertahanan. Juve tercatat sebagai tim paling sedikit kebobolan sepanjang turnamen. Tercatat, Gianluigi Buffon hanya tiga kali memungut bola dari jalanya. Lebih mengesankan karena gawang Buffon perawan dalam enam pertandingan beruntun.

Sebaliknya, Real Madrid menjadi tim paling produktif musim ini. 32 gol menjadi bukti ketajaman pasukan Los Blancos dengan trio maut BBC (Bale-Benzema-Christiano Ronaldo) nya. Belum lagi dengan kemunculan Alvaro Morrata yang tetap produktif meski kerap dibangku cadangkan.

Selain statistik kedua klub yang menguntungkan masing-masing kubu, pertemuan Juventus dan Madrid nyatanya tak hanya sebatas catatan di atas lapangan. Lebih dari itu, keterkaitan antar pemainnya juga menjadi fakta menarik yang akan membuat pertandingan semakin memanas.
Gonzalo Higuain, Sami Khedira adalah nama yang pernah membela Madrid beberapa musim. Mereka pula yang membawa El Real merengkuh trofi Liga Spanyol terakhir sebelum Sergio Ramos dan kawan-kawan kembali meraihnya musim ini.

Sedangkan dari kubu lawan, pertemuan kedua klub di final akan menjadi capaian spesial bagi pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, yang tak lain adalah mantan pemain Juventus. ini akan menjadi pertemuan pertama Zidane melawan mantan klubnya sebagai pelatih. setelah sebelumnya ia juga pernah menghadapi Juve sebagai pemain dan asisten pelatih Madrid.

selain itu, masih hangat dalam ingatan bagaimana Juventus menyelamatkan karir Alvaro Morrata ketika jebolan asli akademi Madrid tersebut tak dapat tempat di skuad utama Carlo Ancelotti beberapa musim lalu. Dua musim bersama La Zebrete membuat Morrata kembali dibutuhkan El Real dan tim nasional Spanyol tentu saja.

Yang tak kalah menarik dari duel ini adalah keberadaan mantan pemain Bracelona, Dani Alves, di Juventus. Semua penggila bola tahu bagaimana tensi tinggi El Classico saat Alves masih berseragam Blaugrana. Ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi karir Dani Alves. Dan tentu saja, ia paham betul bagaimana memainkan sisi psikologis penggawa El Real agar terpancing emosinya.

 Dan satu fakta lain yang tak kalah menarik adalah bahwa kedua tim sama-sama ingin mencetak sejarah baru. Real Madrid tentu ingin mengangkat trofi si kuping besar dua musim beruntun, sekaligus memutus kutukan juara bertahan tak pernah mempertahankan gelarnya.

 Sementara Juventus bernafsu menjadi Italiano kedua yang meraih tiga gelar dalam semusim (setelah Internazionale Milan). Terlebih bagi Buffon yang masih penasaran dengan liga Champions, Karena inilah satu-satunya trofi yang belum pernah ia raih. Dengan usianya yang sudah memasuki kepala empat, final yang akan diadakan di Cardiff ini tentu menjadi kesempatan terakhir Gigi Buffon untuk menyempurnakan mimpinya. Dan dapat dipastikan ia akan menjadi pemain tertua yang mengangkat trofi si kuping besar. Jika juara.


Sudah sepatutnya kita menjadi saksi sejarah yang akan tercipta malam nanti. Apakah Real Madrid yang kembali naik singgasana? Atau Juventus yang mengharumkan sepak bola Italia setelah lama tertidur pulas? 

Senin, 27 Juli 2015


Musim 2014/2015 bisa dikatakan sebagai musim yang kelam bagi seorang Iker Casillas, bukan sekedar nihil gelar bersama Real Madrid, tapi Casillas juga mendapat cemoohan sepanjang musim dari Madridista karena permainannya yang dinilai jauh menurun dari beberapa tahun sebelumnya.

Sejatinya perseoalan Casillas di Madrid sudah terjadi pada pertengahan musim 2012-2013 ketika dia mengalami cidera tangan yang memaksanya harus menepi selama 3 bulan lamanya, suatu hal yang tak pernah dirasakan sebelumnya oleh saint Iker. Real Madrid, yang seperti biasanya terus bersaing dengan Barcelona untuk menjadi yang terbaik di tanah Matador tentu membutuhkan kiper jempolan untuk mengganti peran sepadan sang kapten, atau setidaknya yang tidak jelek-jelek amatlah. Antonio Adan, penghuni cadangan abadi Casillas di Madrid pun tak mampu berbuat apa-apa karena penampilannya seakan termakan dengan hangatnya bangku cadangan el real. Tidak ingin banyak kebobolan, pelatih Madrid ketika itu, Jose Mourinho pun mendatangkan Diego Lopez dari Villareal untuk mengganti sang kiper utama di tim Galacticos tersebut. Penampilan apik yang ditunjukkan Lopez di bawah mistar gawang membuat Mourinho senang bukan kepalang, juga membuat fans Real bisa bernafas lega.

Namun, di situ lah semua awal permasalahan panjang bermula. Disaat Diego Lopez sedang top-topnya di bawah mistar gawang, saat itu pula Casillas sembuh dari cidera panjang. Mou yang dikenal saklek terhadap sepak bola tak sekalipun meliriknya lagi di bangku cadangan, padahal ia sudah sepenuhnya pulih dan siap kembali turun laga bersama skuat bintang lainnya. Keputusan Mou saat itu pun menuai kecaman dikalangan Madridista karena menilai Casillas sebagai roh dan simbol club yang bermarkas di Santiago Bernabeu tersebut.

Kepergian Mourinho pada musim berikutnya seperti membawa angin segar bagi Iker yang berharap mendapatkan tempatnya kembali di best eleven Madrid di bawah Entrenador baru, Carlo Ancelotti. Tapi Don Carlo tak mau begitu saja memberi tempat utama padanya dan menuntut ia untuk terus bersaing bersama Diego Lopez, ditambah kenyataan bahwa Ancelotti yang tidak terlalu menyukai penjaga gawang yang bertubuh kecil, membuat Casillas harus berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan sang pelatih. Pelatih yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kepelatihan bersama segudang prestasi ini pun mencoba bersikap bijak dengan kedua kiper terbaiknya tersebut  dengan memainkan Diego Lopez di ajang La Liga dan menunjuk Iker Casillas sebagai pemimpin di Copa Del Rey dan Liga Champions. Hasil eksperimen Don Carlo pun berbuah piala Copa dan Liga Champions yang menempatkan Saint Iker sebagai pemain terakhir didepan gawang.

Musim lalu Real Madrid kembali kedatangan kiper anyar untuk menggantikan Diego Lopez yang hijrah ke AC Milan. Keylor Navas, kiper Levante yang bermain cemerlang pada piala dunia lalu didatangkan untuk menjadi kompetitor Casillas yang baru. Namun, penampilannya yang inkonsisten membuat Ancelotti kembali menempatkan Casillas di pos gawangnya diseluruh ajang yang diikuti el real ( kecuali Copa Del Rey ).  Kemudian, petaka lain pun menghampiri sang kapten ketika penampilannya yang kembali menurun, ditambah berbagai kesalahan yang ia buat yang membuat Los Galacticos kehilangan beberapa poin penting. 

Perbedaan mencolok pun terjadi, ketika fans Real mencaci Jose Mourinho yang dengan tega mencadangkannya dan setia mendukung Casillas, kini fans seolah menjilat ludahnya sendiri ketika mereka menghujat Casillas habis-habisan karena beberapa blunder yang ia lakukan. Sepanjang musim ia amat jarang mendapat dukungan fans di Bernabeu, bahkan tidak ada. Alih-alih mendapat dukungan, Casillas malah menerima olokan Madridista yang tak terima dengan performa yang ditunjukkan santo Iker. Sepanjang musim 2014-2015 berjalan, Casillas setia menemani gawang Madrid dari serangan-serangan pemain lawan, namun disaat bersamaan fans pun tak kalah setia menghinanya, baik tetika clubnya menang, apalagi jika kalah. Kemarahan fans memuncak ketika Real Madrid tak mendapatkan trofi apa-apa diakhir musim, tentu ini bukan karena kesalahan seorang Casillas saja, melainkan kesalahan kolektif seluruh pemain. 

Kemarahan fans selama musim berjalan rupanya sejalan dengan kemarahan yang ditunjukkan si empunya club, sang presiden, Florentino Perez yang melakukan reinkarnasi kepemimpinan dalam tubuh tim ketika dia dengan lantang memecat Carlo Ancelotti, pelatih yang berhasil membuat mimpi sang presiden untuk meraih La Decima menjadi nyata, dan tanpa diduga oleh fans dan kita semua tentunya, “sang paduka” presiden pun melepas sang kapten. “pemecatan” Casillas bagaikan Tsunami, tanpa suara, bahkan tanpa gempa sebagai peringatan terjadinya musibah mematikan tersebut. Tanpa belas kasih, apalagi terima kasih, el presidente mencampakkan Casillas begitu saja. Perez sepertinya memang tak tahu cara berterima kasih pada orang lain, atau memang ia tak pernah diajarkan cara mengucap terima kasih, tak mengerti pula ia akan arti loyalitas, sehingga dengan senyum simpul khas di balik kacamata beningnya membuang Casillas ke rimba bernama FC Porto.

Kejayaan Real Madrid dengan La Decima sepintas buyar akibat bengisnya sikap Perez pada kaptennya.. Madridista yang selama ini mengambinghitamkan sang kapten pun tak sampai hati melepas legendanya pergi, kekecewaan mereka selama ini kepada Casillas bukan berarti mereka ingin sang kiper disingkirkan dari club, apalagi disingkirkan secara tidak hormat. Fans hanya ingin club kesayangannya menang, apapun ceritanya, siapa pun pemainnya, club harus menang, tanpa alasan, tanpa kecuali. 

Setelah Iker Casillas tidak lagi mengabdi di ibu kota negara, Madridista sontak hening dalam tangis, tangisan yang sudah tertahan lama akan teka-teki masa depan sang Iker pada akhirnya benar-benar membanjiri Spanyol beserta isinya, kemuraman fans yang gagal melihat tim kesayangan menggenggam piala semakin mengerutkan wajah pendukungnya seantero dunia yang makin hari makin durjana ketika harus melihat pangeran kecil dibawah mistarnya tak lagi menjaga kesucian gawang yang telah setia ia temani 2 dekade lebih ini. 

Fans yang selama ini mendewakan “paduka” Florentino Perez akhirnya kembali ke fitrahnya sebagai manusia biasa yang terketuk hatinya dan mengecam sang presiden. Mereka tepat berdiri sejajar di belakang Casillas sebagai bentuk dukungan pada icon club kesayangan. Sementara Perez duduk santai seorang diri dengan secangkir kopi hangat dan cerutu yang ia nikmati sambil mendengarkan musik sekencang-kencangnya tanpa mendengarkan keluh kesah Madridista, tidak sudi pula ia melihat, apalagi menghadiri konferensi pers Iker Casillas yang penuh derai air mata. Ia malah sibuk menghitung uangnya yang menyilaukan mata yang siap ditebar ke pemain-pemain bintang berikutnya, sekaligus berharap ratusan juta Euro yang dikeluarkan selanjutnya mampu menghapus dosanya di mata Madridista.

Iker Casillas yang separuh hidupnya berkorban demi Real Madrid, baik ketika Madrid di puncak prestasi atau bahkan ketika el real berada di dasar jurang keterpurukan, harus menerima kenyataan bahwa dia benar-benar sendiri ketika menyampaikan salam perpisahan. Tanpa fans, kolega, direksi, apalagi Perez, sang Iker hanya bertemankan wartawan yang selalu setia menerima keluh kesahnya. Jejeran kursi biru yang mengerumuni Casillas pun kosong tanpa penghuni. Dalam gerutu dibenaknya, ia seorang diri tatkala menghadapi pergolakan batin yang sebelumnya tiada pernah ia kira. Tak ada tempat buat dia bersandar ketika ia kehabisan kata saat menggambarkan suasana hatinya, tak ada satu nyawa pun di sampingnya yang setidaknya bisa menenangkan dirinya ketika ia merasa emosional yang begitu dalam, tak ada pula yang menyeka tangisnya ketika semua perasaannya tak lagi keluar dari mulut melainkan dari matanya.

Casillas saat jumpa pers terakhir

Perjumpaan singkatnya bersama beberapa wartawan pun ditutup dengan sempurna lewat satu kalimat tegas, “saat ini saya hanya seorang Madridista dan akan selalu meneriakkan hala Madrid sepanjang hidup saya.” Cetusnya, yang sekejap memercikkan air mata sebagai tanda berakhirnya sebuah era. Tanpa kawan di sisi, tanpa tetua club di mana dia mengabdi, Casillas hanya menopang tangisan lewat kedua tangannya, yang bahkan itu pun tak sanggup menghentikan laju air mata yang semakin tak bisa menahan rintihan yang semakin perih. Seluruh pewarta berita juga tak mampu berbuat banyak untuk menahan “amarah” sang Iker, tapi setidaknya, mereka lah saksi sejarah, mereka orang pertama yang merasakan jeritan hati Iker ketika tak ada teman, tiada penanggung jawab club yang seharusnya menjadi tempat ia berbagi kegelisahan hati yang semakin tinggi.

Kebersamaan Casillas bersama Los Galacticos pun tak hanya berakhir di dunia nyata, melainkan juga di dunia maya. Tak berselang lama setelah Iker mengakhiri konferensi pers tunggalnya, pihak club pun menyudahi pertemanan mereka di media sosial, tepatnya melalui akun twitter club yang seketika meng-unfollow sang legenda. Sebuah hal yang seharusnya tak perlu dilakukan, bahkan terkesan lucu, alay, dan memalukan. Club sekelas, sebesar, setenar, sekaya Real Madrid nyatanya telah membuka tabir buruknya sendiri di balik presiden yang maha agung itu. Mereka telah mengotori segala yang mereka punya dengan menodai kesucian seorang Iker Casillas. Tak ada perpisahan, tanpa perwakilan, tiada permohonan maaf, mereka melepas kiper legendarisnya begitu saja, melihat sang legenda mengangkat kopernya dari kejauhan berlapiskan ruangan sejuk nan nyaman tanpa lambaian tangan perpisahan.

Disaat bersamaan, Madridista meramaikan pusat kota yang digunakan sebagai tempat menyuarakan hati nuraninya, tentu mereka tidak meminta kipernya kembali. Hanya satu tujuan mereka, yakni meminta sang presiden turun dari singgasana dan tak ada lagi pemain pujaan yang bernasib sama seperti Iker Casillas.

Perez telah terang-terangan membuka mata kita bahwa sebesar apapun uang yang ia keluarkan, nyatanya tak mampu menggelapkan mata hati pendukung Real Madrid, begitu pula dengan fans Madrid yang telah mengajarkan kita bahwa sekeras apapun mereka mengkritik pemain saat bermain buruk, mereka tetap punya sisi kemanusiaan yang tak bisa dibayar dengan apapun ketika si pemain tak diperlakukan dengan layak. Sebagai catatan, selama era Florentino Perez hanya Zinedine Zidane yang mengakhiri karirnya di Bernabeu. Sementara legenda semacam Fernando Hierro, Luis Figo, Fernando Redondo, Michael Salgado, Vicente Del Bosque, dan tentu sang pangeran Raul Gonzalez hilang tak berbekas dimata sang preseiden.

Apapun itu, Casillas telah menyatukan banyak supporter di dunia yang takjub akan nasib malang di penghujung karir panjangnya. Karena dia juga telah menjadi contoh teladan yang diajarkan bagi semua insan sepak bola baik di dalam ataupun di luar lapangan.