Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 April 2017

Di dunia ini pasti ada satu atau dua, atau banyak hal yang tidak kita sukai. Baik itu perihal seseorang, sebuah tempat, sebuah karya, atau apapun itu yang berhubungan dengan keduniawi-an. Dan biasanya, hal-hal yang tidak disukai itu akan mengganggu ketentraman hidup kita. Sebagai manusia yang menganggap diri sendiri idealis saya mencoba membagi beberapa hal yang tidak saya sukai. Apa saja:

Bani Taplak vs Bani Bumi Datar
Bagi yang sudah baca beberapa tulisan saya perihal pilkada, tentu kalian tahu kenapa saya tidak suka dengan kedua kubu "relawan" ini. Bagai benih tanaman yang semakin tumbuh, ketidaksukaan saya pada mereka semua pun makin hari semakin besar saja. jadi.....next

Selebtwit
Sebagai pengguna setia Twitter ada kalanya kekhitmatan saya berselancar di Twitter terganggu dengan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai selebtwit. Dari sekian banyak selebtwit, Ada beberapa diantara mereka yang masuk daftar hitam saya. Seperti Adelladellaideunited (bener nggak tuh? Ya anggap bener ajalah ya), Falla Adinda, dan Fiersa Besari (Fiersa juga seorang penulis dan penyanyi).
sumber: playbuzz.com
Tentu saya tidak memfollow ketiganya,tapi saya bisa melihat twit mereka dari reetweet-an beberapa teman Twitter saya. Mungkin alasan saya tidak suka ketiganya terhitung alasan yang receh, karena twit yang mereka buat terkadang penting enggak penting, nyambung atau enggak nyambung. Celakanya, twit-twit yang sejatinya bisa kita tulis sendiri itu selalu di reetweet oleh banyak orang. Ya, alasan saya yang receh berbanding lurus dengan twit mereka yang receh pula.

Untuk karya Fiersa Besari di dunia literasi atau musik sendiri, bait-bait kata yang ia gunakan terlalu bombastis, mengawang, muluk-muluk, dan berat rasanya untuk bisa dinikmati oleh orang macam saya (padahal baru liat judulnya doang, belom isinya. Hahaha. Apalo? Apalo? Apalo?)

Sudah semestinya kalian me-reetweet twitnya mz @kening_lebar yang selalu menebar gelak tawa dan mewaraskan dunia. Ini serius!!!

Penyanyi dan Penulis
Bagi yang menjadi teman Path saya, tentu kalian tahu ini bukan?
sumber: penulis


Kalo enggak tahu, hambok ya di buka lho sekali-kali. Masa chek in Path pas liburan atau lagi ke tempat-tempat kece doang. Ahelah

Saya yakin, banyak di dunia ini, atau setidaknya di Indonesia memiliki penyanyi yang enggak banget dan menciptakan lagu yang enggak kalah enggak bangetnya dari si penyanyi. Untuk mz Virgoun yang salamnya kepada dik Starla tak tersampaikan karena selalu bentrok dengan para Anak Langit, juga mz Alexander Thian yang tampaknya ngefans sekali dengan grup band asal Inggris, Keane, atau Almost is Never Enough nya Ariana Grande yang bisa kita nikmati dalam bentuk buku (entah siapa nama penulisnya). Pesan saya hanya satu, lebih selektiflah dalam memilih judul.

Dan Tere Liye. Muda-mudi mana yang tak tahu buku-bukunya? Ia adalah satu dari sekian banyak penulis Indonesia yang bukunya berserakan di toko-toko buku besar.di toko, Sudut, dan di rak sebelah mana kalian tidak menemukan buku Tere Liye yang judulnya telah melebihi gelar Scotish Premier League nya Glasgow Celtic?

Di balik rentetan buku yang telah ia cetak, ternyata Tere Liye adalah seorang yang buta sejarah, buta pada sebuah kebenaran masa lalu yang kini ia rasakan sendiri buah kenikmatannya. Berpegang teguh pada satu kedunguan bahwa hanya kaum agamis yang berjuang dalam memerdekakan negeri ini tanpa andil orang-orang nasionalis di dalamnya. Ini tentu menjadi kebodohan paripurna di abad 21. Dan mungkin saja, Tere Liye adalah satu-satunya penulis di muka bumi yang buta akan sejarah bangsanya sendiri.

Ernest Hemingway, Noam Chomsky, dan Liverpool
Bagian ini berbeda dengan tiga bagian di atasnya. Saya suka dengan karya-karya Noam Chomsky dan Ernest Hemingway. Banyak pula dari kita yang mengamini tulisan-tulisan Chomsky yang dituangkan dalam buku“How The World Works” atau “Who Rules The World”. Dan siapa juga yang tak tersihir jiwanya ketika membaca “Lelaki Tua dan Laut” yang telah dicetak puluhan kali, atau kumpulan cerita pendek yang dikemas menjadi satu dalam sebuah buku karya agung Ernest Hemingway.

Dalam sebuah catatan yang katanya sangat rahasia terdapat nama kedua penulis mahsyur ini yang dipekerjakan CIA sebagai alat propaganda mereka. Jika memang benar adanya, tentu kenyataan ini sulit untuk kita terima. Terlebih pada Noam Chomsky yang karyanya tak jarang menyudutkan Amerika Serikat sendiri. Tapi kemudian apakah saya membenci keduanya? Karya-karya nya? Belum tentu . karena pemikiran-pemikiran mereka sedikit banyaknya telah mempengaruhi pemikiran saya.

Lalu Liverpool? Sungguh disayangkan, saya baru menyadari bahwa tim asal Merseyside ini tidak bagus-bagus amat (jika kata bapuk terlalu berat untuk diucapkan) setelah saya mencintai Liverpool begitu dalam.

buzzer
buzzer yang saya maksud di sini tentu saja buzzer politik bukan buzzer sebuah produk yang tiap waktu memenuhi linimasa twitter. Ada beberapa buzzer yang tidak saya follow karena alasan tertentu. Ada pula buzzer yang tetap saya follow sekalipun tak jarang pandangannya berbeda dengan saya.

Akhmad Sahal, Tsamara Amani, Kang Dede, dan Fadjroel Rahman. Makin hari saya semakin tidak mengerti  dengan orang-orang ini. Pembelaan yang kian banal mereka pada jagoannya terkadang membuat “relawan” ini tampak bodoh lagi dungu. Orang-orang dengan pendidikan tinggi seperti mereka seakan rela menggadaikan isi kepala demi langgengnya jalan calon gubernur duduk kembali di balai kota.

Ketidak sukaan ini tidak serta merta membuat saya meng-unfollow mereka. Saya justru tetap setia menjadi pengikut mereka dengan tujuan ingin melihat sejauh mana kepentingan menghancurkan pikiran. Tak jarang, saya beberapa kali mempertanyakan apa yang mereka utarakan di twitter.

Seperti Akhmad Sahal yang tetap melihat celah dalam kasus penyiraman air keras yang diderita penyidik KPK baru-baru ini, Novel Baswedan yang kemudian ia bandingkan dengan sosok Anies Baswedan. “Gus, suku Mante juga tahu kalo kasus Novel hubungannya sama E-KTP, bukan Pilkada DKI”.

Atau bagaimana ambisi Tsamara Amani (yang ingin menjadi gubernur Jakarta suatu hari nanti dan mengidolai sosok Megawati Soekarno Putri) yang kerap mengajak kaum perempuan untuk terjun langsung ke dunia politik. “Mba Tsamara yang cantik, Ahok dan Jokowi yang bersih saja, imejnya langsung jelek saat jadi pejabat tinggi karena politik praktis negeri ini”.

Saya bukannya tidak percaya dengan kapabilitas Tsamara. Dengan kondisi politik nasional yang semakin menjijikkan, seharusnya Tsamara tahu itu, dan ingat dengan apa yang dulu pernah dilontarkan Soe Hok Gie; Politik tai kucing.

Loh wan. Kok buzzer nomor tiga enggak lo sebutin? Buat apa gue sebutin. Pertama, buzzernya enggak ada yang kompeten. Kedua, gue enggak suka sama calonnya.

Dari paragraf pertama hingga paragraf kesekian, ada beberapa orang yang tidak ingin saya ketahui karena saya terlanjur menangkap pesan jelek terhadapnya. Namun ada pula yang tetap ingin saya ikuti kiprahnya (walau sama menjijikkannya) hanya untuk mengukur ke-netral-an saya dalam bersikap, dan tentu saja demi terpenuhinya birahi nyinyir saya. hahaha