Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Mei 2018


Entah apa yang menjadi pertimbangan Juergen Klopp ketika menawarkan nama Loris Karius kepada manajemen Liverpool untuk meminangnya. Memiliki track record mumpuni soal transfer semenjana dan menjadikan seorang pemain memiliki talenta kelas dunia, manajemen pun tidak berpikir dua kali untuk memenuhi keinginan sang pelatih.

Seperti yang diketahui, Klopp sukses besar dengan transfer pemain kasta bawah. Di Borussia Dortmund ia sukses besar ketika mengorbitkan nama-nama yang sulit ditulis, apalagi dilafalkan seperti Lucasz Piszcek, Jakup Blaszczykowski, Kevin Groskreutz, Sinji Kagawa, hingga striker yang terus berjalan sendiri di tabel top skorer Bundesliga, Robert Lewandowski.

Tapi mungkin manajemen Liverpool lupa bahwa tidak semua transfer Klopp yang serupa berakhir sempurna. Ia gagal bersama pemain antah berantah lain semisal Tinga, Patrick Njambe, Damir Vrancic, bahkan karier Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang juga tidak terlalu mentereng ketika Dortmund masih dikendalikan pelatih berkacamata itu.
gambar: zimbio.com
Datang ke Liverpool, Klopp seperti ingin bernostalgia pada kesuksesannya di Dortmund dengan mendatangkan beberapa nama awam seperti Ragnar Klavan, Dominic Solanke, dan tentu saja Loris Karius. Namun, ada baiknya kita meninggalkan dua nama pertama karena keduanya tidak berkontribusi apa-apa, setidaknya untuk tulisan ini.

Nama Karius sudah menjadi buah bibir ketika ia menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Melwood. Datang ketika berusia 22 tahun dan berstatus sebagai kiper Tim U-21 Jerman, banyak ekspektasi yang menghinggapi dirinya, paling minimal ia harus bisa bermain lebih baik dari Simon Mignolet.

Pada siklus yang berbeda, kehadiran Karius menjadi magnet tersendiri bagi perkembangan populasi suporter Liverpool di seluruh dunia, terutama wanita. Karius bukan hanya dikarunia kehebatan menjaga gawang, ia juga dianugerahi tampang rupawan yang buat sebagian orang, itu sudah cukup menutupi performa di lapangan.
gambar: liverpoolfc.com
Sayangnya, dia datang di waktu yang salah. Tugasnya memikul beban berat gagal ia laksanakan di tahun pertama. Ambisinya menjadikan Mignolet sebagai penyakitan di bangku cadangan justru berbalik padanya karena penampilan buruk dan kesalahan tingkat kacangan yang ia buat. Seketika itu pula, fans perempuan yang memuji ketampanan Karius juga ikut gerah dan tak segan menghujat permainan buruknya.

Tapi Karius tidak menyerah. Ia terus berusaha keras dan melahap latihan dengan semangat. Kesempatan kembali datang musim ini ketika dirinya dipercaya sebagai penjaga gawang utama khusus Liga Champions – awalnya – oleh Klopp. Dewi fortuna kian mendekatinya ketika performa minor Mignolet di Premier League membuat manajer mengambil keputusan penting. Karius resmi jadi pilihan utama untuk semua kompetisi.

Keputusan tersebut terbukti tepat. Sejak dikawal Karius, keperawanan gawang Liverpool mengalami peningkatan. Di Liga Champions, Liverpool mencatatkan enam cleansheet. Sedangkan di Premier League, gawangnya 10 kali tidak kebobolan dari 19 pertandingan, lebih banyak dari Mignolet yang notabene bermain lebih sering.

Karius kian matang sejak dipercaya menjadi kiper utama. Beberapa penyelamatan krusial pun kerap ia lakukan, seperti saat menepis tandukan Shane Long (Southampton), tendangan keras Pablo Sarabia (Sevilla), sepakan melengkung Mohamed Diame (Newcastle United), penalti Harry Klaim Kane (Spurs), hingga tendangan volley Marko Arnautovic.

Dengan penuh kesombongan saya mengatakan Karius layaknya seorang David De Gea, yang hanya menjadi bahan lelucon ketika pertama kali datang ke Manchester United lalu berubah bak pahlawan seorang diri ketika Setan Merah mampu mempertahankan tempat di papan atas. Karius sedang melewati fase yang pernah dirasakan De Gea beberapa waktu lalu. Hingga sebelum final Liga Champions, saya masih yakin dia mampu seperti itu dan Liverpool tidak perlu membeli kiper baru seperti Alisson Becker, terlebih seorang parasit bernama Gianluigi Donnarumma.
gambar: zimbio.com
Semua bayangan saya di atas berjalan mulus hingga final Liga Champions....sepanjang babak pertama. Ia berhasil menunjukkan dirinya layak bermain di final. Terbang menghalau crossing Dani Carvajal, menepis sundulan Cristiano Ronaldo di muka gawang, hingga menghalau sepakan jarak dekat Isco, Karius telah sah menjadi penyelamat Liverpool pada interval pertama.

Tapi apa daya, tuah 45 pertama berubah menjadi tulah pada paruh kedua. Karius membuat dua blunder di luar logika. Gol pertama bisa dikatakan berkat andil kepintaran Karim Benzema yang mengangkat kakinya. Tapi untuk gol kedua yang dicetak Gareth Bale, agama mana yang bisa memaafkan perbuatan horor itu???

Karius tidak hanya menghancurkan harapan Kopites seluruh dunia. Lebih dari itu, ia bisa mengubur kariernya sendiri akibat kesalahan tersebut. Pertandingan final sekaliber Liga Champions, blunder seperti itu, tentu bisa mengganggu psikis sang pemain. Bahkan dia sendiri mengaku tidak bisa tidur setelah pertandingan.

Usai laga pun Karius tidak kuasa menahan tangis sembari memohon ampun kepada fans. Hal serupa terulang ketika skuat The Reds tiba di bandara John Lennon, Liverpool. Karius menuruni tangga pesawat dengan menutupi wajahnya dengan tangan.

Setelah itu penjaga gawang yang pernah menimba ilmu di Manchester City menulis surat terbuka, yang intinya minta maaf pada semua orang. Ia mengaku kekalahan Liverpool disebabkan oleh aksi horornya di bawah mistar.

Dia sudah malu, sudah minta maaf, dan seakan tak sanggup melihat lingkungannya. Sekarang yang harus dilakukan adalah bangkit dan terus memperbaiki diri agar Klopp tidak berpaling darinya pada musim depan. Rekan setim yang saat di lapangan membiarkannnya berjalan sendirian menghampiri fans pun mulai menguatkan sang kiper. Mereka kompak menginginkan Karius bangkit dan terus membenahi performanya. Bahkan Inter Milan dan Napoli juga tidak ketinggalan memberikan dukungan lewat media sosial. Tidak ketinggalan, seorang legenda layar handphone, Mia Khalifa, juga menyemangati pemain yang disekujur tubuhnya dipenuhi tato itu.

Kita sebagai fans pun sudah semestinya kembali memberinya dukungan dan membuat Karius berdiri tegak lagi. Saya pun masih cukup percaya dengan kapabilitasnya untuk terus mengawal gawang Liverpool kecuali Liverpool dapetin Alisson.

Tanpa perlu kita bilang, Karius sudah pasti berpikir untuk bermain lebih baik lagi. Mengubur memori buruk 27 Mei 2018 demi terus berjalan bersama pemain lainnya untuk menggapai prestasi yang sudah menunggu Liverpool di masa mendatang. Semoga!

Selebihnya, sudah sepatutnya Karius mengurangi kegiatannya di media sosial. Tidak perlu juga dia kerap memamerkan kegantengannya di sana jika performa di lapangan justru mengatakan sebaliknya. Mubazir itu namanya.  Cukup performa Paul Pogba di Instagram saja yang mendapat banyak like, tapi dihujat di lapangan.

Selasa, 20 Februari 2018

“Saya main bola karena kehendak tuhan, saya kembali ke Indonesia juga karena kehendak Tuhan,” lebih kurang demikianlah aksi gelandang Sriwijaya FC Palembang, Makan Konate, dalam sebuah iklan Kukubima Ener-G! beberapa waktu lalu. Tentu dia bukanlah satu-satunya pemain bola yang menjadi bintang minuman energi ini, tapi selama ajang Piala Presiden, Konate jadi bintang utamanya.

Saya cukup yakin hanya 1 persen dari kita yang tidak tahu apa itu Kukubima. Bagi yang tidak pernah mengonsumsinya sekali pun, merk ini sudah cukup terkenal di banyak kalangan. Saya sendiri sangat familiar dengan minuman ini, karena kerap mengonsumsinya selepas bermain Futsal, atau hanya sekadar lagi pengen saja. Tidak bisa dipungkiri memang jika minuman ini sangat menyegarkan.

Kemarin, Senin (19/2/2018) bertempat di Pondok Indah Golf Course saya berkesempatan menghadiri acara launching Kukubima Ener-G! yang turut dihadiri beberapa bintang lapangan hijau seperti Hamka Hamzah, Beto Goncalves dari Sriwijaya FC, Demerson, Yandi Sofyan, Miftahul Hamdi dari Bali United, Marko Simic, Maman Abdurrahman dari Persija Jakarta, Reva Adi Utama, Hasim Kipuw dari PSM Makassar, Hadi Abdillah, serta Gilang Ginarsa yang berasal dari PSIS Semarang.

 


Para bintang Liga 1 itu mewakili klub mereka masing-masing yang baru saja menjalin kerja sama dengan Kukubima. Bagi yang mengikuti gelaran Piala Presiden kemarin, tentu sudah melihat lambang Kukubima menempel di jersey kelima kesebelasan tersebut.

Melalui Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul TBK, Bapak Irwan Hidayat, tujuan Kukubima terjun ke ranah sepak bola adalah untuk mendukung kemajuan sepak bola Indonesia, terutama kompetisi Liga 1 yang baru berjalan tahun lalu.
para pemain dan manajemen klub berfoto bersama sebagai tanda terjalinnya kerja sama dengan Kukubima

“Semoga bergabungnya Kukubima di dunia sepak bola bisa membuat banyak orang semakin termotivasi untuk memajukan bola di Indonesia untuk terus berprestasi, baik di kancah nasional maupun internasional, apalagi sekarang kita mau mengadakan Asian Games. Jadi ini bisa dijadikan momen agar olahraga di Indonesia, khususnya sepak bola makin berkembang,” kata beliau, Senin (19/2/2018).

Selain itu, Pak Irawan menambahkan bahwa Kukubima ingin ikut andil dalam perkembangan industri sepak bola Indonesia yang sudah tidak lagi menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk operasional klub, sehingga pihak sponsorlah yang akan menjadi kekuatan utama keberlangsungan sebuah klub dalam mengarungi kompetisi.
Pak Irwan Hidayat saat memaparkan tujuan Kukubima terjun ke dunia sepak bola 

Imbas dari kerja sama ini tentu saja nama Kukubima yang semakin dikenal masyarakat luas, apalagi Persija baru saja menjadi juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United di final. Selain itu, Marko Simic juga menyabet dua gelar individu bergengsi, yaitu pemain terbaik dan top skorer turnamen dengan 11 golnya.
dibawa dong sama Simic dua trofinya

“Kami tidak menyangka Persija bisa juara Piala Presiden dan itu berdampak bagus bagi kami sebagai sponsor. Kami ingin semua CSR ikut berpartisipasi memajukan sepak bola dan kompetisi kita agar lebih kompetitif tiap tahunnya,” sambung Pak Irwan.

Kendati demikian, ada yang unik dari launching Kukubima kali ini. Selain sepak bola, produk asli Sido Muncul ini nyatanya memiliki misi lain di luar dunia olahraga, yaitu untuk menyelamatkan Sungai Citarum dari sampah yang selama ini mengancam. Bahkan hal ini menjadi tema utama acara yang diberi nama ‘Ayo Selamatkan Citarum’.

Keadaan sungai Citarum saat ini sudah tercemar berbagai limbah, seperti limbah rumah tangga, limbah industri yang tidak menggunakan IPAL membuat warna air sungai yang makin lama semakin coklat kehitaman, serta limbah peternakan dan perikanan. Tentu ini sangat ironis karena sungai itu punya fungsi yang sangat vital untuk masyarakat, salah satunya adalah menjadi sumber air minum warga sekitar.
salah satu concern Kukubima Ener-G! saat ini, ayo selamatkan Citarum

Sekilas mungkin tidak ada hubungannya minuman energi dengan keadaan lingkungan yang ada. Tapi lagi-lagi Kukubima ingin semua masyarakat sadar bahwa fenomena lingkungan, terutama kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama.

Berawal dari inisiatif Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo, yang kerap membersihkan sungai Citarum bersama anggotanya, Kukubima pun ikut tergerak untuk sama-sama membersihkan kawasan sungai yang selama ini dikenal sebagai tempat yang tidak layak akibat kebiasaan warga yang membuang sampah di tepi sungai.

Gerakan ini dirasa perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran warga agar tidak membuang sampah sembarangan supaya bisa terhindar dari bencana banjir yang selama ini terus menghantui. Apa yang dilakukan Kukubima ini pun bukan hanya sebatas kampanye semata, tapi mereka juga sudah turun langsung untuk membersihkan Sungai Citarum.

Jadi jelas tujuan Kukubima Ener-G sangat bermakna dan tidak cuma untuk kemajuan sepak bola. Lebih dari itu, mereka ingin membentuk kesadaran masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan lama yang masih membuang sampah sembarangan agar lebih aware pada masalah sekitarnya. Karena salah satu cara mencegah terjadi banjir berasal dari kesadaran kita sendiri terhadap lingkungan.


Senin, 29 Januari 2018

gambar: zimbio.com

Sepak bola adalah olahraga rakyat yang tak bisa jauh dari kontroversi. Memang, semua olahraga tak luput dari kontroversi, tapi cabang lain perlahan mulai berbenah dengan segala kemajuan teknologi yang bisa membuat pertandingan menjadi lebih adil dan dapat diterima banyak penggemarnya.

Kita mengenal Tenis sebagai salah satu permainan paling melelahkan. Untuk menghabiskan satu pertandingan saja, ia bisa memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Dulu, permainan yang menggunakan raket ini hanya mengandalkan wasit dan beberapa petugas yang mengamati apakah bola yang dipukul Andre Agassi ketahuan deh umur saya dan kawan-kawannya masuk atau keluar.

Sekarang Tenis sudah menggunakan teknologi yang bernama Hawk Aye. Gunanya tentu saja untuk membantu sang pengadil menentukan keputusan apakah bola masuk dalam garis lapangan atau tidak. Begitupula dengan bulutangkis. Kini, andai Taufik Hidayat masih bermain, ia sudah tak perlu lagi walk out gara-gara wasit yang tidak becus itu ketika berlaga di Asian Games Korea Selatan beberapa tahun lalu. Cukup acungkan tangan ke atas meminta challenge.

Sepak bola juga demikian. Banyaknya kotroversi yang terjadi membuat FIFA sebagai induk organisasi berpikir keras bagaimana membuat olahraga semilyar umat ini bisa lebih berdaulat adil dan makmur. Maka terciptalah Video Assistant Referee, atau kondang dengan sebutan VAR.

Tapi hal itu tidak serta merta membuat semua orang puas. Di Italia dan Jerman (kompetisinya sudah menggunakan VAR) banyak yang tidak puas dengan kinerja teknologi itu. Pasalnya, wasit membutuhkan waktu yang lama untuk membuat keputusan. Contoh: ketika para pemain sudah meluapkan kegembiran karena berhasil mencetak gol, tiga menit kemudian sang pengadil bisa menganulir gol tersebut setelah melihat tayangan ulang VAR. Kan pemain sama fans jadi ngomong anjeeeeeng kalo gitu.

Salah satu kompetisi elit yang belum menggunakan VAR adalah Liga Inggris. Tapi tampaknya teknologi itu akan segera dipakai Premier League seiring makin seringnya opa Arsene Wenger ngambek karena kinerja wasit, yang menurutnya makin terbelakang.

Tidak bisa dipungkiri memang jika Liga Inggris menjadi sarang kontroversi yang salah satunya disebabkan oleh wasit. Ya, hampir sama dengan Liga Italia. Tapi di Serie A kontroversi hanya tersentralisasi pada pertandingan Juventus saja. di Negeri Ratu Elizabeth, momen-momen itu terjadi merata, terutama setelah Sir Alex Ferguson mangkat dari jabatannya di klub yang itu.

Jauh sebelum Wasit Lee Mason membuat kontroversi karena larinya lebih kencang dari bintang muda Manchester United, Jesse Lingard (LAAAAH), Inggris memiliki satu nama tenar lainnya dalam diri Mark Clattenburg.

Bagi fans Liverpool, Clattenburg dicap sebagai wasit yang selalu membela Manchester United. Sedangkan menurut fans United, ia tak lebih dari sekedar musuh yang harus disoraki tiap meniupkan peluit. (Aneh kan? ya iyalah, kalo nggak ya bukan kontroversi namanya).

Pada 2016 lalu, Clattenburg pernah membuat Raheem Sterling ngamuk karena dianggap handball. Padahal dalam tayangan ulang terlihat jelas bola mengenai badannya. Keputusan ini pun membuat Manchester City takluk 1-2 dari Tottenham Hotspur.

Sedangkan di luar lapangan, wasit 42 tahun itu juga tak luput dari kontroversi. Ia ketahuan selingkuh dengan seorang wanita muda bernama Andrea. Hebatnya, Clattenburg mengaku masih bujangan pada Andrea dan rela melepas jabatannya sebagai wasit demi memulai hidup bersama. Nahasnya, perbuatannya itu diketahui oleh sang istri, Claire, yang melabraknya langsung.

Yang tak kalah kontroversi dari sosok wasit asal Inggris ini adalah ucapan rasisnya kepada pemain Chelsea ketika itu, John Obi Mikel. 2012 lalu, ia dituding mengucapkan kata 'monyet' pada pemain asal Nigeria tersebut. Tak hanya Mikel, ucapan Clattenburg juga menyasar Juan Mata dengan menyebutnya sebagai orang Spanyol yang idiot.

Kendati pada akhirnya ia membantah tuduhan rasis itu, dirinya sudah kadung menjadi buah bibir seantero Inggris dan dunia. Mungkin, entah benar atau salah, hal ini secara ridak langsung membuatnya di deportasi dari Liga Inggris. Sejak musim ini, Clattenburg di pindah tugaskan menuju Arab Saudi.

Lama tak terdengar namanya, Clattenburg tiba-tiba muncul membawa cerita baik nan menghangatkan. Di negara salah satu peserta Piala Dunia 2018 itu, wasit kharismatik ini membuat semua orang takjub dan kembali membicarakannya. Tidak hanya media dari negara asalnya yang terkenal kejam, rekan sejawat, maupun pelaku sepak bola, tapi juga dari warganet yang menyaksikan aksi terbarunya.

Pada sebuah pertandingan bertajuk King's Cup antara Al Feiha vs Al Fateh, Clattenburg mengguncang dunia ketika laga memasuki menit 95 di babak tambahan. Pasalnya, laga yang tengah berjalan panas ini dihentikan oleh sang pengadil. Bukan karena ada pemain yang tergeletak di lapangan, atau lemparan botol dari penonton, apalagi aksi walk out dari salah satu manajer tim. Tapi karena kumandang azan yang menggema di King Salman bin Abdul Aziz Sport City Stadium.


Bukan satu dua menit ia menghentikan laga. Nyaris empat menit pertandingan berhenti hingga azan benar-benar selesai. Penonton, staff pelatih, dan pemain yang berada di bangku cadangan, maupun 22 penggawa yang sedang bertarung di lapangan, semua tampak diam. Suasana hening semakin menambah syahdu lantunan azan dari muazin. Bahkan, komentator yang tadinya bersemangat memandu laga juga larut dalam takbir.

Setelah azan selesai, laga kembali dilanjutkan dengan diawali tepukan tangan penonton yang memadati stadion. Mereka memuji keputusan Clattenburg yang menghentikan laga itu. Ketika video ini tersebar, banyak warganet yang memuji keputusan wasit kelahiran Consett, Inggris. Mereka menganggap sang pengadil telah mempertontonkan rasa hormat yang tinggi kepada orang-orang muslim di seluruh dunia.

Praktis kontroversi yang selama ini melekat dari dirinya berubah menjadi puja-puji. Bukan hanya karena ia menghentikan laga saat azan berkumandang, tapi juga latar belakangnya yang memiliki kepercayaan berbeda dan statusnya sebagai warga Inggris yang baru kali ini bertugas di Timur Tengah, terlebih Arab Saudi yang memiliki peraturan sangat ketat.

Saya tidak tahu apakah semua pertandingan di sana akan dihentikan jika terdengar suara azan karena memang belum melihat video serupa sebelumnya. Tapi setidaknya di Indonesia hal tersebut tidak terjadi di Liga Bank Mandiri, Liga Super Indonesia, Indonesia Super Championship, Liga 1, atau apa pun federasi menamakan kompetisi di tanah air.

Dari banyak stadion, kandang Persiba Balikpapan (sebelum pindah ke Stadion Batakan) memiliki jarak sangat dekat dengan Mesjid. Bahkan kerap terdengar suara azan di tengah-tengah pertandingan. Tapi apakah wasit menghentikan laga? Tidak. Ia tetap melanjutkan, hanya suporter yang berhenti bernyanyi dan menari mendukung klubnya bertanding.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan Clattenburg bisa dibilang sikap luar biasa di tengah kontroversi yang membelenggu sepanjang kariernya. Sebagai orang yang tidak tahu apa maksud dari azan dan bagaimana sakralnya arti azan bagi umat muslim di dunia, dia bukan hanya patut dipuji, tapi juga harus dikenang. Terlebih bagi kita masyarakat Indonesia yang masih harus banyak belajar toleransi dan menghormati agar bisa keluar dari jebakan batman bernama kaum bumi datar, bumi bulat, cebong, atau kaum apalah-apalah itu yang sering dijuluki oleh netizen.

Minggu, 10 Desember 2017


Di Italia, AC Milan adalah klub raksasa. Bersama Juventus dan Inter Milan, mereka bergantian menguasai Serie A. Namun, apa yang ditunjukkan beberapa tahun ke belakang tentu tidak mencerminkan Milan yang sebenarnya. Dengan Inter yang juga kehilangan arah, dua sekota ini terlempar dari persaingan, tidak hanya tiga besar, tapi juga pentas Eropa.

Baik Milan dan Inter seakan bernasib sama dengan klub-klub Indonesia yang kolaps secara prestasi ketika dana APBD dicabut untuk kegiatan sepak bola. Ya, keduanya tidak bisa berbuat banyak ketika tim dililit hutang yang berimbas pada kekuatan pemain yang dimiliki.

Salah satu cara yang dianggap ampuh adalah mendatangkan investor baru untuk memulihkan keuangan tim. Dan keduanya lagi-lagi kompak dalam hal ini. Inter mendahului sang tetangga ketika mendapuk Suning Grup sebagai pemilik klub. Sedangkan I Rossoneri baru beberapa bulan ini dikendalikan oleh Yonghong Li, yang katanya pengusaha tajir Tiongkok.

Namun, di sinilah perbedaan mereka. Milan langsung menggebrak dengan limpahan 12 pemain baru, hanya di musim ini saja. Sedangkan Suning masih dipusingkan dengan keseimbangan neraca keuangan klub sehingga harus berpikir sekian kali untuk menghamburkan uang 200 juta Euro. Bahkan jika digabung dengan dana transfer musim lalu, Suning belum melampaui uang yang dikeluarkan kompatriotnya itu di Milanello musim ini.

I Rossoneri sejatinya sudah berada pada trek yang benar musim lalu. Bersama Vincenzo Montella, mereka kembali menapaki kompetisi Eropa, meskipun hanya sekelas Liga Europa. Setidaknya, prestasi ini lebih baik dari Inter yang lagi-lagi tak tersentuh kompetisi regional.

Dengan pemain yang masih apa adanya, Montella berhasil membuat Milan bermain konsisten sepanjang musim. Bahkan ia suskses menaklukkan Juventus musim lalu. Tapi entah kenapa tuah tersebut tidak berbekas musim ini. Padahal, legenda AS Roma tersebut punya modal lebih bagus nan mumpuni.

Sedangkan Inter, dengan jumlah pemain yang didatangkan musim ini yang hanya setengahnya dari Milan, mereka mampu bertengger di puncak klasemen. Bahkan, sepanjang musim 2017-2018, Skuat Luciano Spalletti belum tersentuh kekalahan. 

gambar dibikinin @andhikamppp
Performa Suso dkk justru limbung musim 2017-2018. Euforia tifosi pun hanya sebatas laga pertama di kualifikasi Liga Europa ketika membenamkan klub asal Makedonia, Shkendija, 6-0, dan tim-tim semenjana lainnya. Itu pun di awal musim. Setelahnya, Milan secara bergantian dilumat oleh klub  Serie A, seperti Lazio, AS Roma, Sampdoria, Inter, dan Napoli.

Rentetan kekalahan dan hasil imbang membuat posisi Montella di ujung tanduk. Hingga akhirnya skor 0- 0 kontra Torino membuat ia harus melepas jabatannya dua hari setelah pertandingan. Menariknya, keputusan itu hanya berselang sehari setelah Massimiliano Mirabelli mengatakan Milan sudah berada di jalur yang tepat bersama eks pelatih Fiorentina tersebut.

Tifosi kemudian gembira mendengar kabar pemecatan itu. Mereka yang tadinya enggan menyaksikan klub kesayangan bertanding selama Montella masih memegang kendali, mulai berani begadang lagi demi melihat 12 pemain baru berlari di lapangan. Namun, di sinilah klub pujaannya mengulang kesalahan yang sama ketika menunjuk Gennaro Gattuso.

Ketika memberhentikan Massimiliano Allegri beberapa musim lalu, Adriano Galliani mengumpulkan legenda klub yang sudah pensiun untuk memulai legacy baru di San Siro. Mulai dari Clarence Seedorf, Filippo Inzaghi, hingga…Christian Brocchi untuk menjadi juru taktik klub pemilik 7 gelar Liga Champions tersebut.

Hasilnya? Tidak hanya nihil, tapi mubazir. Tiga legenda satu generasi itu hanya berkarier singkat dan kian memperkuat status Milan sebagai klub medioker. Masalah keuangan mungkin alasan yang tepat bagi klub untuk mengontrak para debutan itu. Jangankan pelatih, pemain yang didatangkan pun mayoritas hanya berstatus bebas transfer, alias gratis.

Ingin memutus hal tersebut, Galliani memanggil allenatore yang sedang naik daun bersama Sampdoria ketika itu, Sinisa Mihajlovic. Perlu diketahui, penunjukkan ini menyakitkan hati saya sebagai fans pemain yang pernah mencetak hat-trick lewat tendangan bebas itu. Tapi keberadaan Miha nyatanya tidak membuat klub semakin baik. Ia tercatat hanya sukses memproklamirkan Gianluigi Donnarumma dan Alessio Romagnoli sebagai bintang masa depan Il Diavolo Rosso.

Pria Serbia akhirnya diganti oleh Montella, yang juga pernah melatih Sampdoria. Sempat menanjak dengan pemain seadanya di musim pertama, peraih scudetto bersama Roma ketika masih menjadi pemain ini tak berkutik ketika dihadiahi skuat baru sehingga tim diambil alih oleh Rhino yang sebelumnya menjadi Indra Sjafri-nya Milan di U-19.


Satu hal yang diingat banyak orang ketika mendengar nama Gattuso tentu saja sikapnya yang suka berapi-api di lapangan ketika masih aktif bermain – alih-alih prestasi selama menjadi pelatih. Bagaimana tidak, empat tim antah berantah yang ia latih hanya membuat cv-nya jelek.

Menukangi FC Sion, Palermo, Pisa, dan OFI Crete, pria 39 tahun itu tidak pernah menyelesaikan kontraknya. Kariernya selalu berujung pada pemecatan. Menilik pada catatan tersebut, Milan bukan saja mencoba bunuh diri, tapi juga mencari mati, mengingat peran pelatih sangat vital dalam sebuah tim.


Jika manajemen ingin melestarikan para legenda, kenapa mereka tidak memanggil pulang Inzaghi, yang kini sukses membawa Venezia promosi ke Serie B saja? Atau Massimo Oddo, yang meski belum berprestasi tapi karier manajerialnya lebih mumpuni dari pelatih yang semasa bermain dijuluki Hariono-nya Milan tersebut.

Kiprah Gattuso dengan status barunya ini pun mulai bisa ditebak. Ia gagal menang melawan Benevento di laga debut. Untuk diketahui, Benevento adalah satu-satunya tim di lima liga top Eropa yang belum meraih satu poin pun. Heroiknya, poin pertama mereka raih ketika kiper Alberto Brignoli membobol gawang Donnarumma di menit 95 hingga membuat Gattuso tidak bisa tidur setelahnya.

Tidak puas imbang dengan Benevento, Milan kemudian ditaklukkan Rijeka 0-2 di Liga Europa. Mungkin kekalahan ini masih bisa dimaklumi karena dua hal. Pertama, I Rossoneri sudah memastikan lolos ke babak berikutnya. Kedua, pemain yang diturunkan adalah pemain lapis kedua. Oke, klasik. Tapi ya terima saja, toh ada waktunya kita beralasan demikian.

“Performa tim di lapangan adalah tanggung jawab saya sebagai pelatih. Pelatih akan selalu menjadi orang terdepan yang disalahkan pada performa klubnya dan akan selalu begitu,” kurang lebih seperti itulah kata Montella sesaat dirinya dipecat. Dan memang benar, kegagalan sebuah tim adalah kesalahan mutlak juru taktik. Itu sudah menjadi hukum di sepak bola dan tidak bisa dibantah lagi.

Tapi hal lain yang dilupakan Milanisti adalah keberadaan Marco Fassone di belakang layar. Selain mengulang kesalahan dalam menentukan pelatih, klub yang berdiri pada 1899 lampau ini juga mengulang kesalahan Inter saat mempekerjakan pria yang sekilas mirip Lee Mason tersebut. Iya, wasit yang larinya lebih cepat dari Jesse Lingard itu.

Fassone adalah orang di balik transfer-transfer Inter di pada medio 2012 hingga 2015. Saya tidak perlu menyebutkan siapa saja pemain yang ia datangkan ke Appiano Gentile ketika itu. Kalian cukup lihat I Nerazzuri di tabel klasemen saja. Kini dengan kekuatan uang yang dimiliki Milan, kepekaan Fassone terhadap kebutuhan tim tidak juga membaik.

Leonardo Bonucci kini jadi pesakitan di Milan. Ingat gol pemain Austria Wien di San Siro pertengahan November lalu? Atau bagaimana Andre Silva yang tokcer di Timnas Portugal justru belum mencetak satu gol pun di Serie A. Malah hanya seorang Fabio Borini yang mampu tampil konsisten sepanjang musim ini. Oke, maaf.

Jadi, fans Milan tidak perlu lah senang dengan pemecatan Montella dan bangga pada penunjukkan Gattuso. Trofi Liga Champions dan scudetto saat menjadi pemain bukan jadi jaminan saat jadi pelatih. Diego Maradona yang didapuk sebagai tuhan oleh publik Argentina saat masih bermain saja kembali jadi manusia biasa ketika menangani Albiceleste.

Kalau pun keluguan kalian masih berpegang teguh dengan capaian seperti itu, tidak perlu Gattuso yang turun gunung, cukup Valerio Fiori saja. Selain sama-sama setia bersama I Rossoneri, torehan trofinya juga mentereng di Milan. Dan yang pasti pria yang sudah pensiun sejak 2008 silam ini tidak pernah terpeleset.

Tapi, setidaknya Gattuso sudah menunjukkan kemajuan ketika mengalahkan Bologna 2-1 pada giornata ke-16. Ia membawa timnya menang disaat Inter, Juventus, Napoli, dan AS Roma imbang. Serta tentu saja ketika tribun San Siro lebih sepi dari sebelumnya. 





Jumat, 17 November 2017

Nama Diego Costa sudah kadung memiliki kesan buruk bagi seluruh pecinta sepak bola Inggris, termasuk pendukung Chelsea dan saya tentu saja (yang bukan fan Chelsea). Sampai saat ini, sulit rasanya jika kita tidak berpikir negatif tentang perangainya, baik di dalam maupun luar lapangan.

Di dalam lapangan, sudah tidak terhitung jumlah musuh Costa yang tersebar diseantero tim-tim Inggris, Spanyol, dan tentu saja kompatriotnya dari Brasil. Sedangkan di luar sepak bola, banyak orang yang kesal (terutama tetangga) ketika ia tengah asyik berfantasi pada seperempat malam dengan video kualitas 720p selama beberapa menit di kediamannya.

Terkadang saya masih begitu kesal jika mengingat kelakuannya saat Chelsea menghadapi Liverpool beberapa musim lalu. Banyak yang percaya Costa dengan sengaja menginjak Emre Can dan nyaris baku pukul dengan Jordan Henderson juga Martin Skrtel di Stamford Bridge. Tapi ya sudahlah, itu sudah berlalu dan ia tidak melanjutkan perbuatan hina itu di pertemuan kedua klub selanjutnya.
zimbio.com


Beberapa sifat buruk Costa nyatanya tak bisa diterima Antonio Conte di Chelsea. Pelatih asal Italia itu bahkan berani mengeluarkannya dari tim, sekalipun dia adalah faktor vital keberhasilan The Blues menggondol trofi Liga Inggris musim lalu. Costa murka, begitupula sang manajer. Keduanya sama-sama mempertahankan keyakinannya untuk menolak minta maaf.

Pada akhirnya, pemain naturalisasi Spanyol itu pun kabur ke kampung halamannya di Brasil. Menenangkan diri, menunggu Chelsea ikhlas menjualnya ke tim lain. Namun, hal itu tidak mudah ia dapatkan lantaran permintaan mutlaknya yang cukup berat untuk dikabulkan. Bukan. Ia tidak menuntut gaji menjulang pada klub peminat atau fasilitas wahid sebagai syarat dirinya bersedia hengkang. Costa hanya ingin pulang ke Atletico Madrid.

Atletico bukanlah tim pertamanya di Eropa. Ia sempat singgah di Portugal sebelum benar-benar merapat ke klub ibu kota Spanyol itu. Di sana pun dirinya tidak serta merta menjadi penghuni tetap tim utama. Costa bahkan harus empat kali disekolahkan ke klub semenjana, semisal Celta Vigo, Albacete, Real Valladolid, dan tim sekota kelas tiga, Rayo Vallecano.

2007 menginjakkan kaki di Vicente Calderon - kandang Atletico - baru di tahun 2012 namanya lalu-lalang di skuat utama Merah Putih (bukan Indonesia). Namun, pembelajaran itulah yang membuat Costa selalu ingin pulang ke Madrid. Dia tidak kehilangan satu apa pun bersama Chelsea. Gelar top skorer, trofi Liga Inggris, dan gaji melimpah sudah ia rasakan di sana. Tapi ia sadar hanya Atletico tempat impiannya.

Klub yang dilatih legenda Argentina, Diego Simeone, awalnya tidak bisa berbuat banyak karena embargo transfer yang tengah mereka hadapi. Tapi Costa tidak patah arang. Klub kaya baru, AC Milan, coba melihat kesempatan untuk melegonya, sama halnya tim raksasa Turki, fenerbahce, yang bersedia hanya disinggahi Costa selama enam bulan sampai hukuman FIFA kepada Atletico selesai. Namun, ia bergeming.

Costa bukanlah Neymar yang rela diperdagangkan oleh ayahnya. Ia juga bukan Wayne Rooney yang menunggu uzur dan tidak terpakai lagi baru bersedia pulang ke Everton. Costa adalah.....Costa. Pemain bengal berupa tua yang menyimpan cinta untuk satu tim yang menjadi tonggak sejarah kariernya. 

Atletico yang sempat berpikir dua kali memulangkannya akhirnya luluh pada permohonan Costa. Mereka resmi mendatangkan kembali pemain kelahiran Brasil itu September lalu, dengan catatan, Ia baru boleh dimainkan Januari 2018, setelah banned FIFA berakhir. 

Pemain 27 tahun yang tadinya asyik bersantai di Brasil, buru-buru terbang ke Madrid setelah mendengar Chelsea dan Atletico menyetujui kepindahannya. Ia pun menjadi pemain termahal Los Rojiblancos dengan bandrol 50 juta Euro, lebih mahal 15 juta euro ketika Chelsea mendatangkannya dari Atletico 2014 lalu.

Kegalauan Costa sejak Juli lalu pun berakhir klimaks setelah ia akhirnya pulang ke rumah keduanya. Kendati harus sabar menunggu sampai tahun depan, itu tidak masalah. Seperti yang ia katakan, "Saya hanya ingin pulang ke Atletico dan akan menunggu hingga mereka membawa saya,".

Di balik itu semua, ia tetap saja dicaci karena lebih memilih Spanyol sebagai negara yang ia bela, bukan Brasil yang notabene adalah tumpah darahnya. Tapi, lagi-lagi Costa punya alasan cukup kuat berbaju La Furia Roja (julukan Spanyol). Seperti yang diungkapkan beberapa tahun lalu, ia berhutang budi pada Spanyol. Tidak hanya di karier sepak bola, tetapi juga kehidupan sosialnya.

Membela Spanyol bukan berarti dia lupa dengan Brasil. Seperti yag disampaikan di atas, konflik yang dihadapi di Chelsea membuat dirinya pulang ke Lagarto, sebuah kota kecil di Brasil, bukan ke Madrid. Kehidupan sepak bola-nya memang ada di Spanyol, tapi di luar itu, ia adalah seorang anak yang selalu rindu asal usulnya.

Saat ini, Diego da Silva Costa baru saja menuntaskan rasa cintanya yang belum usai di Atletico setelah beberapa tahun berpetualang ke London Barat. Dan setelah ini, jika boleh saya menduga, ia akan menyempurnakan hal yang sama di Brasil nantinya.