Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juli 2019

foto: kumparan.com


Bangun pagi, bagi sebagian orang adalah ujian terberat dalam hidup. Bukan tanpa sebab, tidur sepuasnya hingga matahari meninggi adalah kebahagian yang tak bisa diganti dengan apa pun.

Dan ya, saya baru saja melewati ujian itu Selasa (23/7/2019). Lebih parah lagi karena waktu tidur tidak lebih dari tiga jam. Ketika banyak orang memilih tidur lebih cepat ketika mengetahui ada sebuah kewajiban yang harus dijalani esok paginya, saya justru memilih tidur lewat tengah malam. Sudah termasuk pagi bahkan.

Sejatinya saya sudah berencana untuk tidur lebih cepat dari biasanya karena harus datang pagi hari untuk mengikuti sebuah acara. Tapi pengaruh kopi di malam harinya membuat saya terjaga hingga subuh. Padahal itu cum kopi biasa, sachetan, diaduknya pun langsung dengan bungkusnya.

Tapi ya, itu tetap kopi kan namanya? Ya walaupun bagi mereka yang mendaku diri sebagai penggila kopi itu bukanlah kopi sesungguhnya, bagi saya itu kopi tetaplah kopi, kenapa harus diributin sih? Elah, ngelunjak.

ohgreat.id


Singkat cerita, saya sampai di tempat acara di bilangan Kota Tua Jakarta untuk menjadi saksi sejarah bagaimana daya magis kopi bersatu dengan nilai-nilai sejarah yang ada di Museum Sejarah Jakarta.

Jujur saja, ini acara Kopi pertama yang saya datangi. Siapa sangka jika pengalaman pertama ini justru berlangsung di museum. Sebuah perpaduan yang luar biasa bukan?

Kopi yang dalam lima tahun terakhir menjadi gaya hidup baru di kalangan anak muda kembali mendapat panggung utama di acara kali ini. Tidak tanggung-tanggung, Masyrakat Kopi Indonesia (MKI) menggandeng Dinas Pariwisata Jakarta untuk mengadakan acara bertajuk Kopikan Museum.

Ini menjadi cara baru MKI untuk terus mempopulerkan kopi Indonesia ke masyarakat yang lebih luas. Bagi saya pribadi, memperkenalkan kopi di museum adalah perpaduan yang pas dan saling menguntungkan. Betapa tidak, ketika masyarakat ibu kota, terutama anak muda, makin banyak yang berbondong-bondong ke coffee shop untuk menikmati segala jenis kopi, disaat yang bersamaan makin sedikit pula orang yang datang ke museum.

Sebagai orang yang suka ngopi tapi enggak paham-paham banget soal kopi, banyak hal yang baru saya ketahui setelah mengikuti acara di Museum Sejarah Jakarta kemarin. Di antaranya adalah fakta bahwa kandungan dan manfaat kopi akan berkurang jika ditambahkan dengan gula, kopi pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-18, kopi Robusta lebih enak dari Arabica, dan yang paling penting dari semua itu adalah, secangkir kopi bisa membuat sperma berlari-larian mencari mangsa.

Kopi, bisa dikatakan hidangan bermanfaat yang paling simpel. Bayangkan saja, setiap akan melakukan aktivitas, kita – seenggaknya saya – selalu membutuhkan kopi. Percaya atau tidak, dengan kopi pikiran bisa menjadi tenang, dan percaya atau tidak juga, kopi bisa menunda lapar terutama di akhir bulan.

Sihir kopi ini kemudian memunculkan satu narasi sederhana tapi bermakna dari Ketua MKI, Edy Panggabean. “Jika kamu tidak tahu harus memulai dari mana, mulailah dari secangkir kopi,”



Rabu, 15 Maret 2017

Tidak bisa kita pungkiri, sepak bola sudah menjadi komoditas penting bagi pecintanya, atau bahkan bagi pemilik kepentingan di dalamnya. Sebagai olahraga universal, sepak bola telah menjabarkan beribu tafsir yang bisa menelurkan persahabatan bagi mereka yang seiman, walau tak sedikit yang berakhir dengan permusuhan karena berbeda jalan.

Sedari dulu, menyaksikan pertandingan sepak bola hampir pasti kita disuguhkan pertunjukan yang menawarkan keindahan dari setiap pelakunya. Sudah cukup banyak pula strategi dan formasi yang ditemukan para pelatih hebat agar terciptanya pemainan indah yang berujung kemenangan. Hingga kini, formasi-formasi itu pun masih terus berevolusi.

Seperti Belanda yang tersohor dengan Total Football nya yang menekankan pada mobilitas tiap pemain di lapangan, atau Brazil yang menciptakan Jogo Bonito yang indah dan tak bosan untuk terus kita saksikan.

Beda zaman beda permainan. Mungkin ungkapan sederhana ini menjadi cerminan sepak bola era sekarang yang semakin menghambakan pada tiga angka. Tak peduli bermain cantik atau jelek, bertahan atau menyerang, jika kemenangan sudah di tangan, itu semua tidak jadi soal. Sekarang, orang cenderung mengenalnya dengan istilah pragmatis.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pragmatis diartikan sebagai sesuatu yang bersifat praktis. Sedangkan menurut para ahli bahasa, pragmatis adalah sebuah konsep yang menekankan pada sisi kepraktisan dibandingkan sisi manfaatnya. Jika di sepak bola, kita bisa menyimpulkan bahwa pragmatis adalah sebuah metode permainan yang hanya bertujuan menghasilkan kemenangan tanpa memperhatikan teknik permainan.

Sebagai contoh, kita kembali lagi pada Brazil dan Belanda. Kedua negara dahulu menciptakan sistem permainan yang tidak semua orang bisa mempraktekkannya. Namun, sejak dipimpin Bert Van Marwijk pasca Euro 2008, tim negeri Kincir Angin perlahan mulai meninggalkan Total Football yang kadung melekat dalam budaya sepak bola mereka.

Pelatih yang juga mertua Mark Van Bommel ini membawa De Oranje bermain lebih pragmatis, yang hanya memikirikan kemenangan. Meskipun ia berhasil membawa Sneijder cs ke final piala dunia 2010, namun tak sedikit yang mengkritik permainan mereka, termasuk dari para legendanya sendiri.

Setali tiga uang, Brazil yang tiap tahunnya disesaki talenta dengan kemampuan di atas rata-rata juga bernasib serupa. Carlos Dunga, yang menjalani debut profesional pertama sebagai pelatih kepala tampaknya belum memahami betul apa itu Jogo Bonito yang dulu sempat ia peragakan saat masih aktif bermain. Menyianyiakan bakat luar biasa Robinho, Kaka, Coutinho dan Neymar di atas lapangan menjadi dosa besar Dunga selama melatih tim Samba. Tak heran, jika mantan pemain Fiorentina ini dua kali dipecat dari tim nasional.

Meski sejak diambil alih Tite permainan Tim Samba mulai berubah dan kembali menghibur penontonnya, tetap saja, sepak bola mulai kehilangan sedikit makna dari segi hiburan dan keindahan. Tidak salah memang jika banyak pelatih yang mulai menerapkan permainan pragmatis yang cenderung bertahan jika sudah memimpin pertandingan, karena dalam olah raga apapun, semua tentu ingin berakhir sebagai pemenang.
sumber: olahraga.pro
Di lain pihak, kita bisa dengan senang hati menerima dalih tim-tim semenjana yang menerapkan permainan demikian ketika melawan tim besar. dengan kualitas pemain yang jauh berbeda, satu-satunya cara yang bisa dilakukan tentu saja bertahan sebisa mungkin, dan membuang bola sejauh mungkin agar terhindar dari kekalahan, atau hanya untuk menghindari banjir gol ke gawang.

Tapi apa jadinya jika tim besar menerapkan permainan demikian? Satu dari sekian pelatih hebat yang dikenal pragmatis tentu saja Jose Mourinho. Jose, sebesar apapun mulutnya, ia tetaplah seorang yang realistis dalam sepak bola. “mereka mengendalikan permainan, menekan kami sepanjang laga, tapi pada akhirnya tetap kami yang keluar sebagai pemenang, itu yang penting.” sudah sangat sering Mou berujar seperti itu untuk membungkam para pengkritiknya.

Saat pertandingan leg kedua, babak semifinal Liga Champions 2009 lalu, Inter Milan, tim yang dilatih Mou ketika itu membuat frustasi Barcelona dan seisi Camp Nou, tatkala Inter bermain dengan pertahanan berlipat (setelah unggul 3-1 di leg pertama) yang sekaligus membuat Victor Valdes marah melihat selebrasi The Special One di akhir laga. 

Hingga kini, tim-tim yang dilatih pria Portugal ini akrab dengan permainan membosankan. Bahkan julukan sebagai tim parkir bis akan melekat padanya, di klub manapun ia berada. Julukan ini disematkan karena kebiasaan Mou  yang terlalu bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik cepat. Bagi tim sebesar Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, dan kini Manchester United, dengan deretan pemain hebat, tentu ini menjadi antitesis  dari filosofi sepak bola menyerang khas tim bertabur bintang itu sendiri.

Meski banyak yang mengkritik strategi ini, permainan pragmatis yang akrab dengan menumpuk pemain di area sendiri ini sedikit banyak menjadi senjata andalan beberapa klub yang semakin berhati-hati dalam melakoni laga maha penting. Seperti final piala dunia 2014 lalu yang mempertemukan Jerman vs Argentina.

Pada masa Maradona dan Franz Beckenbauer, laga kedua negara berjalan sangat menarik. Jual beli serangan tak jarang membuat detak jantung berpacu kencang. Tapi apa yang terjadi di Brazil tiga tahun lalu tentu menjadi antiklimaks dengan apa yang terjadi pada medio 70-80an.

Padahal, kedua kesebelasan memiliki deretan nama yang tak kalah kondang dari pendahulunya, seperti Lionel Messi, Angel Di Maria, Kun Aguero (Argentina), Thomas Muller, Mesut Ozil, Bastian Scweinsteiger (jerman), yang seharusnya bisa membuat permainan kedua tim lebih hidup.

Final-final selanjutnya dari berbagai ajang pun berakhir sama. Seperti tiga helatan terakhir Liga Champions yang berujung pada adu pinalti dan perpanjangan waktu.Tak ada suguhan menarik selayaknya pertandingan final. Berhati-hati dan menunggu lawan membuat kesalahan menjadi kunci kemenangan. Kita para penonton pun kena imbasnya, dipaksa menunggu  lebih lama hanya untuk menyaksikan satu gol bersarang dijala lawan.

Permainan atraktif nan menghibur memang tidak melulu menghasilkan banyak gol dan berujung kemenangan. Saling serang ke gawang lawan, penyelamatan-penyelamatan penting kiper di mulut gawang menjadi tontonan amat menarik kiranya, sekalipun tidak ada gol yang tercipta.

Tidak mungkin tidak, bahwa semakin banyak orang yang yakin jika keindahan sepak bola semakin pudar tergerus zaman. Memang banyak yang menerima pragmatisme sepak bola jika tim yang dibela meraih kemenangan, tetapi tidak sedikit pula yang tidak senang, sekalipun timnya juga memenangkan pertandingan.

Zdenek Zeman mungkin menjadi segelintir pelatih yang beranggapan bahwa menyerang adalah pertahanan terbaik. Ia tak sungkan mengubah formasi tim dari 3-5-2 klasik menjadi 2-3-5 yang menyerang total dan tak lazim dipakai pelatih lainnya. Tak heran, dengan permainan seperti ini, AS Roma dan Pescara menjadi tim paling produktif selama dilatih pria asal Republik Ceko tersebut. Meski torehan ini berbanding lurus dengan catatan kebobolan mereka yang tinggi.

Tapi, sekali lagi, sebosan apapun kita menyaksikan satu pertandingan si kulit bundar, kita tetap saja tak bisa berpaling dari layar. Bahwa di dalam hati ingin segera terlelap dan mata semakin sembab bukanlah jadi soal. Karena semua akan kembali pada hakikat bola sebenarnya sebagai penghibur pula pemersatu sesama.

Kekalahan, kemenangan, kebosanan,  menyatu dalam satu kebahagian bernama sepak bola. seburuk apapun sepak bola, sejengkel apapun kita dibuatnya, ia telah membuat kita melupakan sejenak tekanan hidup yang sehari-hari kita rasakan.

Selebihnya kembali lagi ke kita, apakah tetap mencintai sepak bola dengan semua kebosanan di atas lapangan,  atau beralih ke cabang olah raga lain yang menawarkan sensasi yang berbeda. Tapi menurut saya, kita akan rela begadang dan kemudian tertidur pulas di tengah pertandingan hanya dihadapan sepak bola yang membosankan, ketimbang olah raga lain yang lebih menghibur.



Senin, 13 Maret 2017

Antiklimaks terjadi minggu kemarin, ketika kedigdayaan Pusamania Borneo FC (PBFC) di Jalak Harupat tak tersisa di Stadion Pakansari, Cibinong. Tanpa ampun, Arema Malang melumat klub asal Samarinda itu dengan lima gol dan hanya berbalas satu.

Mari kita tinggalkan jalannya pertandingan yang membuat nama Christian Gonzales patut dikenang, dan mengalihkan perhatian pada satu sosok yang juga harus kita kenang, tak lain dan tak bukan, ia adalah pelatih PBFC, Ricky Nelson namanya.

Sebagai olahraga yang semakin menunjukkan identitas maskulin dalam setiap gerak-gerik para pelakunya, sepak bola tak hanya terus berkembang dalam segi permainannya saja, namun perkembangan zaman juga turut serta mengubah paradigma pelatih-pelatih untuk – setidaknya – berpenampilan lebih rapi agar sedap dipandang mata.

Jas adalah salah satu upaya mereka untuk menunjukkan ke-maskulin-an nya dan menjadi cara tak langsung agar mereka merasa lebih dihormati. Tentu bukan pemain yang sedang berlari merebut bola yang mengenakan setelan jas lengkap, melainkan para peramu taktik di pinggir lapangan yang 90 menit mengamati jalannya pertandingan.

Di belahan Eropa dan Amerika, sudah cukup lazim kita menemukan pelatih yang mengenakan jas saat tim nya berlaga. Ada beberapa hal yang membuat mereka selalu memakai jas selama pertandingan berlangsung, seperti budaya dan cuaca.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Sebuah negara beriklim tropis, yang rasa-rasanya dapat menguras keringat jika seorang pelatih memakai jas dipinggir lapangan. Namun, fakta tersebut bukan penghalang bagi Ricky Nelson yang baru-baru ini menjadi buah bibir. Bukan hanya karena berhasil mengantar Pesut Mahakam ke partai final Piala Presiden, tetapi juga karena jas yang selalu ia kenakan saat mendampingi anak asuhnya berlaga.

Ricky bukanlah orang bule yang membawa budaya memakai jas dipinggir lapangan ke Indonesia. Ia seorang Indonesia tulen asal Kupang yang memecah ketabuan pemakaian jas di sepak bola tanah air. Bukan tanpa alasan memang jika banyak pelatih di Indonesia, baik yang pribumi maupun yang berasal dari mancanegara tidak memakai jas selayaknya liga-liga di Eropa.

Suhu Indonesia yang rata-rata berkisar 22-35 derajat celcius tampaknya menjadi alasan masuk akal bagi para pelatih asing untuk menanggalkan jas di lemari pakaiannya. Tentu mereka tak ingin mandi keringat hanya gara-gara berdiri di pinggir lapangan.
sumber: bolaindo.com
Seperti yang dilakukan Simon McMenemy, pelatih Bhayangkara FC yang enggan memakai jas selama berkarir di nusantara. Seperti kita ketahui bersama, mantan pelatih Mitra Kukar ini kerap mengenakan setelan jas kala membesut tim nasional Filipina di ajang piala AFF 2010 lalu. Saat mendampingi The Azkal (julukan Filipina) bermain di Gelora Bung Karno pun, pelatih yang memenuhi tubuhnya dengan tatoo ini bergaya parlente dengan setelan jas yang biasa ia pakai.

Panasnya iklim tropis Indonesia tentu menjadi alasan kuat pelatih asal Inggris ini untuk berpenampilan lebih casual di pinggir lapangan. Atau bule-bule lain yang menukangi klub-klub Indonesia, seperti Robert Rene Albert (PSM Makasar), dan Hans Peter Schaller (Bali United) yang memang terbiasa dengan udara dingin ala Eropa.

Serupa dengan kenyataan, tidak semua pelatih di liga-liga Eropa dan Amerika yang berpenampilan parlente kala mendampingi timnya bertanding, hal demikian juga terjadi di Indonesia, bahwa tidak semua pelatih bergaya casual saat berada di pinggir lapangan. Dan Ricky Nelson menjadi salah satu diantara sedikit pelatih yang tidak berpenampilan casual tersebut.

Kebiasaan Ricky memakai jas bukan baru dilakukan satu, dua tahun ini, melainkan sudah bertahun-tahun sejak ia masih menukangi tim junior Villa 2000. Tanpa memedulikan cuaca panas dan terik matahari, jas hitam, lengkap dengan dasi yang melingkar, tetap ia pakai. Semua ini dilakukan Ricky demi menghargai profesinya sebagai pelatih sepak bola.

Seperti yang dilansir CNNIndonesia.com, ia mengatakan bahwa ini bentuk respek terhadap semua pelaku sepak bola. Berpakaian rapi, terutama mengenakan jas formal adalah bagian penting dari itu. “Bagaimana menurut anda ketika pelatih protes ke wasit, meskipun dengan maksud yang baik, tapi cuma pakai celana pendek dan topi terbalik? Bagi saya, itu sudah mengurangi respek pada wasit,” lanjut Ricky.

Tidak hanya Ricky, kini pelatih-pelatih muda lainnya juga mulai mengikuti jejak pria yang pada tanggal 5 Maret lalu genap berusia 37 tahun tersebut. Meski hanya memakai kemeja formal dan celana panjang, tapi Nil Maizar, Djajang Nurjaman,  dan Aji Santoso sedikit banyak telah mengubah wajah sepak bola Indonesia.

Meski begitu, tak sedikit pula yang mencibir gaya berpakaian Ricky dan berpendapat bahwa ia memakai jas tidak pada tempatnya, apalagi jika pertandingan diadakan pada siang hari. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa maksud Ricky memakai jas hanya untuk gaya-gayaan semata agar tampak seperti pelatih-pelatih top Eropa kebanyakan.

Cibiran serta hinaan bukanlah hal yang perlu dianggap serius olehnya. Bahkan ia menambahkan, salah satu hal penting yang mengukuhkan prinsip berpakainnya adalah studi banding yang ia lakukan di Jerman 2012 lalu, yang menunjukkan beberapa aspek psikologis yang bisa mempengaruhi bagi siapa saja yang mengenakan pakaian formal.

Kini, jas tidak hanya menjadi bagian dari budaya bangsa Eropa, atau untuk menjaga kehangatan saja, tapi sudah menjadi bagian penting dari kehidupan manusia, termasuk sepak bola yang mampu menunjukkan respek antar sesamanya.



Senin, 09 Januari 2017

Lelahkah kita dengan gonjang-ganjing pilkada yang – mungkin bahkan – tuhan pun tak tahu kapan selesainya? Twitter, Facebook selalu membombardir kita lewat mereka yang katanya relawan masing-masing jagoan dengan kedegilannya masing-masing.
sumber: bbc.com

Mereka pula yang selama ini menyuramkan penglihatan kita akan kebenaran yang hakiki. Menuduh yang satu menggunakan ayat tuhan untuk kepentingan politiknya. Padahal, ia pun memperkuat argumen pembelaan juga dengan ayat tuhan. Memperdagangkan firman tuhan sesuai kepentingan dengan tafsir berbeda memang sudah menjadi komoditas nasional ( meski yang satu menolak dianggap sebagai pengobral ayat suci al’quran). Dalam sekejap mata, negeri kita penuh sesak dengan ahli tafsir.

Ahmad Sahal, misalnya. Penduduk twitter mana yang tak tahu ustadz satu ini. sekolah tinggi nan jauh hingga ke Pennsylvania, AS sana, beliau kini sibuk membenarkan akhlak orang-orang yang menurutnya radikal dan menjadi cerobong ISIS – yang lagi-lagi menurut beliau – akan membawa Indonesia ke gerbang kehancuran, hanya karena berbeda pilihan.

Saya tidak begitu mengenal Ahmad Sahal dan saya pastikan dia juga tidak kenal saya, saya hanya orang yang dulu sempat menikmati tausiyah beliau di Twitter tentang toleransi dan keberagaman. Bahasanya yang sederhana tapi bermakna cukup dalam makin membuat saya betah berlama-lama baca cuitan Ahmad Sahal. Pengetahuannya tentang sejarah Islam lintas zaman semakin membuat saya belajar banyak tentang peradaban Islam di masa lalu. Ia pun cukup pintar menjawab pertanyaan netizen yang tetap setia di jalur agama, tanpa tedeng aling-aling pilkada.

Berbicara politik kita selalu berbicara tentang kepentingan dan hawa nafsu, baik itu pribadi ataupun golongan. Kepentingan politik pula yang sedang kita alami kala dihadapkan oleh dua reklamasi, Bali dan Jakarta. Ketika dua kota penting Indonesia yang sebenarnya berjauhan ini dirundung masalah yang sama. Band Superman Is Dead berhasil mengumpulkan jutaan orang untuk menolak reklamasi Tanjung Benoa. Termasuk kita yang di Jakarta ikut teriak satu suara.

Kepekaan kita pada Bali hilang tak berjejak saat ibukota negara diancam isu yang sama. Bahkan Superman Is Dead yang vocal ikut terdiam. Berharap Slank yang bersuara? Duh gusti, maafkan kebodohan saya ini. Kita di Jakarta berkeyakinan bahwa reklamasi di Bali beda peruntukannya dengan Jakarta. Padahal sama-sama reklamasi, sama-sama men-darat-kan lautan (ibukota). celakanya, ketika ditanya apa yang membedakan dua reklamasi ini, tidak ada yang bisa menjawab.

Kita mengagungkan mereka yang menentang laut dewata berubah fungsi alamaiahnya dengan kemungkinan buruk yang kelak terjadi. Sementara di Jakarta? Tidak ada yang lebih agung selain berteman sesama mereka sambil berseloroh primitif pada orang-orang menentang laut ibukota yang tengah diambang perubahan wujudnya.

Beberapa tahun ini, nafsu politik telah menjatuhkan harga diri kita hingga titik paling nadir. Hancurnya pertemanan karena yang satu mempermasalahkan agama dan yang satu tidak, menabikan sosok petahana dan yang satu tidak, mengkritik keras yang berlawanan dengan kita sementara yang satu tidak. Semua itu kita lakukan dari hal paling dasar hingga pada titik yang sebenarnya di luar jangkauan. Tapi kita tetap memaksakan diri untuk melakukan itu hanya demi dia yang kita tuan-agungkan. Lihat apa yang terjadi pada trah Soekarna sekarang, ketika putri yang satu lalu-lalang berdampingan dengan presiden, sementara putri lainnya diburu aparat karena diduga ingin menjatuhkan presiden.

Si putri yang bergerilya tentu tak sendiri. Bersama beberapa kolega ia ditangkap tepat di hari bersejarah, 212. Kita tentu anti dengan tindakan represif seperti penangkapan yang hanya bermodal “diduga”. Sialnya, beberapa dari kita ikut bersuka saat Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, Rahmawati Soekarnoputri, Sri Bintang, dan lainnya dibawa ke polda metro jaya bahkan saat matahari belum menampakkan diri, selayaknya tentara yang gembira kala menyeret Wiji Thukul dan kawan-kawannya ditangkap dengan tuduhan yang sama.

Ya, kita lupa dengan apa yang dulu sempat kita lawan. Kita lupa jika dulu kita pernah bicara “TIDAK” dan sekarang kita hanya bisa bilang “IYA” pada si penguasa. Suka atau tidak, Susilo Bambang Yudhoyono tak pernah sekalipun menangkap Fadjroel Rachman yang ketika itu itu lantang bersuara ingin menjatuhkan SBY dan sempat ingin mengkudetanya dari kursi presiden. Fadjroel yang mempunyai kekuatan media saja tidak pernah disentil SBY, kenapa sekarang kita begitu takut dengan orang-orang macam Ahmad Dhani dan Ratna Sarumpaet yang tidak memiliki kekuatan apa-apa?

Kepentingan dan hawa nafsu pula yang tampaknya membuat Ahmad Sahal kehilangan nalar ilmiahnya. Kini, ia hanya peduli pada akhlak umat yang tidak memilih calon yang sama dengannya. Toleransi yang ia junjung memang masih menjadi senjata andalan, namun tak jarang, apa yang ia katakan melampaui batas pembahasan yang sedang dikaji. Seperti saat ia menyerang Pandji Pragiwaksono yang berlawanan pilihan dengannya.

Gus Sahal (setidaknya itu sapaan netizen padanya) dengan yakin mempertanyakan komitmen idolanya Pandji yang hanya menyambangi FPI tapi tidak berani mendatangi kaum minoritas lainnya seperti Syiah, Ahmadiyah, dan….LGBT. seperti yang kita ketahui, kaum Syiah yang sempat bermasalah terjadi di Sampang, Madura. Bukan Jakarta. Sementara Ahmadiyah juga sempat geger di Bogor. Bukan Jakarta.  sementara kita sedang berbicara pilkada Jakarta, bukan daerah lainnya. Sementara LGBT? Saya gantian bertanya, apakah orang yang sudah banyak menafsirkan hadist dan beberapa ayat Al’quran ini pro LGBT?

Ahmad Sahal juga sepertinya hanya menaruh perhatian pada orang-orang yang sepaham pilihan dengannya atau yang berseberangan sekalian agar bisa ia ceramahi dan meng-ISIS-kan mereka. Sementara saya, siapa sih saya? Tak pernah sekalipun mention saya dibalas beliau. Yang menyakitkan hati adalah ketika beliau bercuit “menyerahkan kasus Ahok pada proses hukum=menerima apapun keputusan hukum. Kalo Ahok diputus nggak salah, ya jangan ngancam-ngancam dan ngamuk-ngamuk,” sebuah pernyataan tendesius, menurut saya. “menerima apapun keputusan hukum” tapi mengapa hanya “kalo Ahok diputus nggak bersalah” saja yang ia pertanyakan?

Ini pula yang membuat saya tertawa geli membacanya sekaligus membalikkan pertanyaan Gus Sahal “kalo misal, misal lho ya. Ahok diputus bersalah, gimana?,” sudah barang tentu beliau tak sanggup menerima kenyataan itu dan tak mampu untuk tidak ngamuk-ngamuk di linimasa. hingga kini, pertanyaan sederhana itu pun urung ia jawab.

Seberapa hebatkah pemimpin sekarang sehingga tiap kesalahan yang ia perbuat terasa berat untuk kita kritisi? Seberapa manusiawi kah pemimpin kita, sehingga tiap dalam ketidaktahuan kebijakan yang dibuat kita ikut lupa pada sebuah kesalahan fatal? Seberapa besarkan pemimpin kita, sehingga apa yang ia ucap menjadi kebenaran bagi kita semua? Seberapa pintarkah pemimpin kita, sehingga semua kebijakan yang diambil kita yakini seakan datang dari tuhan? Yang kemudian menuduh mereka yang tak sepaham sebagai kumpulan orang radikal, curut ISIS, otak (nanah) sesat, dan melenceng dari ajaran tuhan yang penuh cinta? Dan, seberapa sucinya pemimpin kita sehingga kita rela hancur oleh adu domba, akibat ketamakan mereka?

Untuk menjadi objektif saja, kita harus menjadi bagian dari mereka. Sedikit saja melenceng, bersiap diserbu oleh teman-temannya. Seperti Ulil Abshar Abdalla yang langsung dihardik “duh, mas Ulil kok udah nggak objektif lagi ya? Udah beda sekarang. Mas Ulil punya kepentingan ya sekarang? Oh iya, partainya kan punya calon juga,” saat Ulil baru sekali saja mengkritisi calon petahana.

Saya bukanlah pembenci petahana. Saya justru memilih petahana untuk kembali duduk di balai kota, sekalipun saya bukan warganya. Saya hanya pembenci sebagian dari kita yang selalu mendewakan penguasa dan membutakan mata kita, membisukan suara kita, menulikan pendengaran kita pada sebuah kebenaran lain yang terjadi dihadapan kita.

Sadarkah kita jika tiap kontroversi yang selalu ia cipta berbuah dari kebodohan kita yang selalu membela? Ia tak pernah belajar dari apa yang selama ini dia ucap karena selalu ada kita yang membela mati-matian tanpa sekalipun mengkritisi apa yang dia buat? Ingat, seburuk-buruknya pemimpin akan baik pula jika dalam tiap perbuatannya selalu kita ingatkan dan kita kritisi. Sebaliknya, sebaik apapun pemimpin, ia akan menjadi buruk jika dalam tiap tindak-tanduknya selalu kita bela, sekalipun itu salah. Sehingga membuat dia bisa berbuat seenaknya karena banyak dari kita yang akan rela menerima kesalahannya.



Jumat, 16 Desember 2016

Bentornato Serie A
sumber: redaksisport.com

 Bukan, saya bukan buzzer Trans 7 yang menjadi official TV partner Liga Italia. Saya hanya pecinta keindahan Liga Italia yang gaungnya kembali bisa kita rasa, seiring mengudaranya Serie A di layar kaca.

Sudah cukup lama memang kita tidak bisa menikmati para gladiator lapangan hijau dari negeri pizza. 
Kepopuleran yang terus merosot, ditambah minimnya pemain bintang memaksa stasiun televisi (lokal) enggan membeli hak siar Liga Italia. Lowongnya kursi-kursi tribun tifosi di stadion semakin menenggelamkan gemerlap Liga yang sempat mahsyur pada medio 90-an hingga awal millenium baru.

Banyak yang beranggapan jika merosotnya liga Italia diakibatkan oleh kasus calciopolli yang menggerogoti negara yang baru saja di tinggal perdana menterinya tersebut, pada 2006 lalu, belum lagi kiprah club-club Italia yang tidak bisa melaju lebih jauh di kancah Eropa semakin membuat Serie A di tinggal oleh penggemar setianya, juga para pemilik media televisi.

Di Indonesia sendiri, hampir semua stasiun TV pernah merasakan dampak manis akibat menyajikan Liga Italia. Mulai dari ANTV, RCTI, SCTV, Indosiar, Trans 7, Kompas TV, hingga TVRI. Dan tiga tahun terakhir, tidak ada satu media televisi pun yang sudi menayangkan Serie A dengan beberapa alasan. Hingga pada akhirnya, musim ini Serie A kembali ke pangkuan Trans 7 yang mulai memanjakan tifosi tanah air sejak dua minggu lalu. Meskipun tidak menayangkan sejak awal musim, para pecinta keindahan sepak bola Italia di Indonesia tetap mengapresiasi dan angkat topi pada stasiun TV yang kebetulan satu grup dengan tempat perusahaan saya bekerja.

Kita semua kembali disuguhkan sepak bola indah khas Italia tanpa harus membayar satu rupiah pun di penghujung bulan. Meski saat ini pihak Trans 7 hanya bisa menyanggupi satu pertandingan dalam satu minggu, ini tentu tidak menjadi soal. Karena nyatanya, ini hanya permulaan agar ke depan Trans 7  bisa menayangkan 2 atau bahkan 3 pertandingan setiap minggu nya. Semoga.

Meski sempat kecewa karena batalnya Derby Milano tersiar di layar kaca. Seminggu berselang, kegelisahan pecinta liga Italia benar-benar terbayar saat Inter Milan v Fiorentina kembali menghiasi TV kita. Terutama saya yang sangat haus akan kerinduan menyaksikan La Beneamata (julukan Inter Milan) bertanding. Terus terang saja, terakhir kali saya menyaksikan Inter bermain kala melakoni Derby Milano dua musim lalu yang dimenangkan Inter lewat gol backhill Rodrigo Palacio. Bukannya tak cinta dan tak sayang, apa boleh dikata, Erik Tohir telah merusak cerita indah saya.

Apa yang dirindukan penggemar sepak bola Italia pun terbayar lunas, setidaknya itu dirasakan fans Inter Milan di tanah air setelah pihak TV memilih menayangkan club pujaan mereka. Perasaan Interisti pun semakin berbinar kala club kesayangan bermain kesetanan pada awal laga dan langsung unggul 3-0 pada 20 menit pertama.

Yang benar-benar dirindukan itu pun kembali. Sebuah kerinduan yang tak bisa diganti oleh liga Spanyol dan Inggris. Bahkan Liverpool sekalipun. Menyaksikan kemenangan Inter untuk pertama kali diiringi gemuruh seisi Gueseppe Meazza. Lewat dentuman-dentuman ledakan yang acap kali menghiasi pertandingan Serie A seakan membawa saya kembali ke zaman di mana liga Italia menjadi komoditi nomor satu pecinta sepak bola Indonesia.

Kita tidak akan bisa mendengar semacam ledakan di Liga Eropa lainnya. Karena hanya memang Liga Italia yang bisa menawarkan hal itu. ketika di Inggris, Spanyol, dan Jerman menganggap itu membahayakan, Liga Italia tetap menjadikannya sebuah keindahan yang selalu  dirindukan.

Nostalgia Serie A Italia semakin terasa nikmatnya saat disetiap gol tercipta, seluruh penonton meneriakkan nama belakang sang pencetak gol secara serempak. Terhitung hingga tiga atau sampai lima kali para tifosi meneriakkan nama pencetak gol yang dikomandoi oleh leader mereka. Dan lagi-lagi, ini tidak saya temukan kala menyaksikan pertandingan di Inggris atau Spanyol.

Budaya seporter-seporter di Italia memang sedikit berbeda dibanding seporter yang ada di Spanyol dan Inggris. Mereka cenderung sama dengan fans asal Eropa timur atau Turki yang spontan dan terkesan beringas dalam mendukung tim. Di waktu yang bersamaan, fans-fans di Inggris dikenal sangat “santun” mendukung tim kesayangan, bahkan saat awayday sekalipun (terlepas dari aksi Hooligans tim nasionalnya yang brutal).

Kita hampir mustahil melihat stadion di Italia tanpa amukan asap yang mengepung seisi lapangan. Sekalipun tribun penonton tidak terisi penuh, tapi hampir bisa dipastikan jika lapangan pertandingan menjadi gelap dipenuhi asap yang berasal dari flare dan smoke bomb. Dan semakin indah oleh kibaran banner-banner besar serta bendera raksasa yang selalu menghiasi stadion.

Belakangan, di Inggris, Liverpool beberapa kali mulai mewarnai tiap sudut stadion dengan smoke bomb merah yang kerap mengasapi saat tim kesayangannya mencetak gol. Tapi sialnya, club harus menanggung hal tersebut kala FA menjatuhi sanksi akibat ulah Liverpudlian. Alasannya cukup sederhana, smoke bomb, flare, dan sejenisnya memang dilarang di sepak bola Britania.

Beberapa tahun lalu, ketika Liga Italia masih mendapat tempat di TV Indonesia, mata saya harus menatap lebih dalam ke pertandingan akibat lapangan yang tertutup pekatnya asap dari para seporter. Terkesan mengerikan memang, tapi itu lah identitas mereka, daya tarik mereka. Dan itu pula yang selalu saya rindukan dari Liga Italia.

Untuk beberapa kalangan, hanya buang-buang waktu saja menyaksikan liga Italia karena permainannya yang lambat dan cenderung membosankan, tapi bagi pecinta keindahan sepak bola, Liga Italia adalah kewajiban yang harus dilaksanakan, lewat fenomena seporter yang tanpa takut membela tim kesayangan, hingga panorama gol-gol indah dari para gladiatornya yang hanya terjadi di liga Italia. Bagi saya, tidak ada pemain dari belahan dunia manapun yang mampu mencetak gol semagis Fransesco Totti atau Antonio DI Natale.

Maka tidak ada kata terlambat sekiranya media tanah air baru memanjakan pecinta Serie A di tengah kompetisi. Seperti kata Fiersa Besari sekalipun saya bukan penggemar blio dan tidak pernah baca buku-bukunya “seperti dendam, rindu juga harus dibalas tuntas,”. Karena liga Italia selalu menawarkan kita sebuah keindahan sepak bola. Ya, Beauty Of Serie A.
sumber: radarindo.com

Selamat datang kembali, Serie A